Sulawesi, Harianmedia — Jumlah siswa yang mendapat penanganan setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, bertambah menjadi 20 orang.
Para siswa tersebut mendapat penanganan di Puskesmas Tabulahan setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Peristiwa ini bermula pada Senin, 28 September 2026, ketika sejumlah siswa setelah mengonsumsi menu MBG mengalami keluhan seperti mual dan pusing.
Pada laporan awal, sebanyak 12 siswa SMPN 1 Tabulahan dibawa ke Puskesmas Tabulahan. Namun, pada Selasa, 29 September 2026, jumlah siswa yang ditangani bertambah menjadi 20 orang.
Kepala Puskesmas Tabulahan Iryana menyampaikan, dari 20 siswa tersebut, sembilan orang masih menjalani perawatan di Puskesmas Tabulahan. Satu siswa lainnya dirujuk ke rumah sakit di Mamuju untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, sembilan siswa lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan. Ada pula satu siswa yang masih menjalani observasi.
Puluhan siswa yang mendapat penanganan tersebut berasal dari empat sekolah. Rinciannya, 14 siswa berasal dari SMPN 1 Tabulahan, empat siswa dari SMK 1 Tabulahan, satu siswa dari SMPN 6 Tabulahan, dan satu siswa dari SD 017 Pepatian.
Keluhan yang dialami para siswa disebut hampir sama. Beberapa di antaranya berupa mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, hingga sesak napas.
Sebelumnya, Camat Tabulahan Martina menyampaikan adanya informasi mengenai menu ayam yang dikonsumsi siswa. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak guru, terdapat ayam yang disebut masih berwarna merah atau belum matang sempurna.
Informasi tersebut masih menjadi bagian dari dugaan yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan karena pemeriksaan terhadap sampel makanan masih dilakukan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa bersama tim terkait telah mengambil sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Sampel kemudian dikirim untuk menjalani pemeriksaan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.
Kepala Dinas Kesehatan Mamasa Ratna Sari Dewi mengatakan pemeriksaan sampel diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Namun, waktu keluarnya hasil pemeriksaan tetap bergantung pada proses pemeriksaan di BPOM.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi makanan yang dikonsumsi para siswa dan membantu memastikan penyebab gangguan kesehatan yang terjadi. Karena itu, dugaan penyebab tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keluhan yang dialami siswa atau kondisi makanan yang dilaporkan sebelumnya.
Selain pemeriksaan makanan, penanganan terhadap siswa menjadi perhatian di tingkat daerah. Para siswa yang masih membutuhkan perawatan tetap mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan, sementara siswa yang kondisinya sudah membaik diperbolehkan kembali ke rumah.
Perkembangan kasus tersebut juga mendapat perhatian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tabulahan dihentikan sementara setelah adanya kejadian yang melibatkan 20 siswa tersebut.
Koordinator Wilayah SPPG Sulawesi Barat Firazh Ahmadillah mengatakan SPPG Tabulahan akan dihentikan sementara selama 20 hari kalender. Penghentian tersebut dilakukan sebagai langkah evaluasi dan investigasi sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
BGN juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut dan menyatakan penanganan siswa yang mengalami gangguan kesehatan menjadi prioritas. Evaluasi dilakukan untuk menindaklanjuti dugaan kejadian luar biasa keamanan pangan yang berkaitan dengan layanan MBG di wilayah Tabulahan.
Dengan bertambahnya jumlah siswa yang ditangani dari 12 menjadi 20 orang, pemeriksaan terhadap makanan dan pengelolaan layanan MBG menjadi bagian penting dalam proses penanganan kejadian ini.
Hingga Selasa, 29 September 2026, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Karena itu, informasi mengenai penyebab kejadian masih bersifat dugaan sampai hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan selesai.
Sementara proses pemeriksaan berlangsung, sebagian siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Tabulahan dan satu siswa mendapatkan rujukan ke rumah sakit di Mamuju. SPPG Tabulahan juga dihentikan sementara selama 20 hari untuk keperluan evaluasi dan investigasi.

