Buku Islam ala Prabowo Ramai Dibahas, Apa Sebenarnya Isi di Dalamnya?

Jakarta, Harianmedia — Buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi perhatian publik. Buku yang sebelumnya telah diluncurkan pada 2025 itu ramai dibicarakan setelah sejumlah nama tokoh yang tercantum dalam bagian buku memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan mereka dalam penulisan. Kondisi tersebut membuat masyarakat kembali penasaran dengan isi buku dan proses penyusunannya.

Buku tersebut bukan ditulis langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Buku ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas serta diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Buku itu membahas sosok Prabowo dari sudut pandang nilai-nilai Islam, kehidupan keagamaan, karakter, kepemimpinan, serta sejumlah gagasan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan kebangsaan.

Berdasarkan informasi mengenai isi buku, pembahasannya antara lain menyoroti nilai keislaman dan spiritualitas, perdamaian, keadilan sosial, serta pengabdian untuk kesejahteraan masyarakat. Para penyusun berusaha menggambarkan bagaimana nilai-nilai tersebut dikaitkan dengan perjalanan hidup, kepemimpinan, dan kebijakan Prabowo Subianto.

Penggunaan istilah “Islam ala Prabowo” menjadi salah satu hal yang membuat buku tersebut menarik perhatian. Namun, istilah itu perlu dilihat bersama dengan subjudul buku, yaitu Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Dengan konteks tersebut, buku membahas cara nilai-nilai Islam digambarkan dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo, bukan memperkenalkan agama atau mazhab Islam baru.

Buku ini pertama kali diluncurkan di Jakarta pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional BAZNAS 2025. Sebelum peluncuran, BAZNAS menyebut buku tersebut diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. Peluncuran buku menjadi salah satu agenda dalam pembukaan kegiatan tersebut.

Saat peluncuran, isi buku juga dikaitkan dengan pembahasan mengenai kepemimpinan dan nilai keadilan dalam kehidupan berbangsa. Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah pembahasan mengenai hubungan nilai Islam dengan kepemimpinan serta upaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Perhatian terhadap buku tersebut kembali meningkat pada September 2026 setelah muncul persoalan mengenai nama sejumlah tokoh yang tercantum dalam daftar isi. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Tuan Guru Bajang atau TGB Muhammad Zainul Majdi. Dalam respons di media sosial pada 6 September 2026, TGB menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.

Nama KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar juga menjadi perhatian. Pihak keluarga mempertanyakan pencantuman nama Gus Kautsar dalam buku tersebut. Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana nama dan materi yang berkaitan dengan tokoh tersebut bisa tercantum dalam buku.

Persoalan yang muncul bukan mengenai keberadaan buku tersebut, melainkan proses pencantuman nama dan materi sejumlah tokoh. Nama-nama tersebut memang tercantum dalam bagian tertentu buku, tetapi beberapa tokoh yang dikaitkan dengan bagian tersebut kemudian menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengirim tulisan. Karena itu, persoalan mengenai sumber materi dan proses persetujuan masih menjadi perhatian publik.

TGB, misalnya, tercantum pada bagian yang membahas visi keislaman Prabowo Subianto. Namun, ketika ditanya mengenai keterlibatannya, TGB memberikan jawaban bahwa dirinya tidak pernah mengirim tulisan. Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar munculnya pertanyaan publik mengenai proses penyusunan buku dan cara materi tersebut masuk ke dalam naskah.

Hal serupa terjadi pada nama Gus Kautsar. Pihak keluarganya mempertanyakan pencantuman nama tersebut karena menyatakan tidak ada tulisan yang dikirim oleh Gus Kautsar untuk buku itu. Kondisi ini kemudian ikut memperluas pembahasan mengenai proses editorial dan persetujuan nama kontributor dalam buku.

Meski demikian, persoalan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran tertentu. Sampai perkembangan terbaru, yang sudah diketahui adalah adanya keberatan dan klarifikasi dari sejumlah tokoh mengenai pencantuman nama mereka. Penjelasan mengenai proses penyusunan, sumber materi, serta dasar pencantuman nama masih menjadi bagian yang ditunggu publik.

Di tengah perbincangan tersebut, isi utama buku tetap berkaitan dengan pembahasan mengenai kehidupan keislaman, nilai sosial, kepemimpinan, dan sosok Prabowo Subianto. Buku ini juga bukan autobiografi yang ditulis langsung oleh Prabowo. Penyusunan dilakukan oleh tiga nama yang tercantum sebagai penyusun, sementara sejumlah tokoh disebut dalam bagian-bagian tertentu buku.

Ramainya pembahasan mengenai buku tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya tertarik pada judulnya, tetapi juga ingin mengetahui isi dan proses penyusunannya. Di satu sisi, buku tersebut membahas hubungan nilai Islam dengan kepemimpinan Prabowo. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai pencantuman nama beberapa tokoh yang kini memberikan klarifikasi tentang keterlibatan mereka.

Dengan demikian, Islam ala Prabowo merupakan buku yang membahas Prabowo Subianto dari perspektif keislaman dan kepemimpinan. Buku tersebut telah diluncurkan sejak 2025, tetapi kembali menjadi perhatian pada September 2026 karena munculnya klarifikasi dari sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku. Perkembangan selanjutnya masih menunggu penjelasan lebih lengkap mengenai proses penyusunan dan pencantuman nama para tokoh tersebut.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *