Kuningan, Harianmedia — Hujan deras disertai angin kencang menerjang wilayah Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB tersebut menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan di sejumlah desa. Desa Mekarsari menjadi wilayah dengan dampak paling besar berdasarkan hasil pendataan sementara. Selain merusak bangunan tempat tinggal, cuaca ekstrem tersebut juga mengakibatkan sejumlah pohon tumbang dan mengganggu akses jalan di beberapa lokasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan mencatat sebanyak 80 rumah mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut.
Kejadian bermula ketika hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan Kecamatan Maleber pada Kamis sore. Kondisi cuaca tersebut berdampak pada sejumlah permukiman warga, terutama bagian atap dan genting bangunan yang mengalami kerusakan. Beberapa rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari ringan hingga berat. Pohon-pohon di sekitar permukiman juga terdampak angin kencang sehingga sebagian mengalami patah dan tumbang. Situasi tersebut membuat aktivitas masyarakat di sejumlah titik terganggu. Warga kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi rumah masing-masing setelah angin mulai mereda.
Berdasarkan hasil asesmen sementara BPBD Kabupaten Kuningan, kerusakan rumah tersebar di empat desa di Kecamatan Maleber, yaitu Desa Mekarsari, Desa Buniasih, Desa Maleber, dan Desa Karangtengah. Dari seluruh wilayah tersebut, Desa Mekarsari mencatat jumlah rumah terdampak paling banyak, yakni sebanyak 62 unit. Rinciannya terdiri dari enam rumah mengalami kerusakan berat, 23 rumah mengalami kerusakan sedang, dan 33 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Data tersebut menjadikan Desa Mekarsari sebagai wilayah dengan dampak kerusakan bangunan terbesar dalam kejadian cuaca ekstrem tersebut.
Selain Desa Mekarsari, Desa Buniasih juga mengalami dampak cukup besar dengan total 15 rumah warga mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, dua rumah masuk kategori rusak berat, sedangkan 13 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Sementara itu, di Desa Maleber terdapat dua rumah yang mengalami kerusakan, tepatnya di Dusun Tarikolot. Adapun di Desa Karangtengah, satu rumah warga tercatat mengalami kerusakan akibat angin kencang. Jika seluruh data dari empat desa tersebut digabungkan, jumlah rumah yang mengalami kerusakan mencapai 80 unit.
Dampak kejadian tersebut tidak hanya menyasar bangunan tempat tinggal. Satu unit warung dan satu unit gudang juga tercatat mengalami kerusakan sedang. Kerusakan pada bangunan usaha tersebut menambah jumlah fasilitas milik warga yang terdampak hujan deras dan angin kencang di Kecamatan Maleber. Kondisi bangunan yang mengalami kerusakan berbeda-beda membuat proses pendataan diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganan setiap lokasi. Petugas melakukan asesmen sementara sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan terhadap rumah dan bangunan yang terdampak.
Selain kerusakan bangunan, hujan deras dan angin kencang juga menyebabkan pohon berukuran besar tumbang di sejumlah lokasi. Salah satu kejadian pohon tumbang dilaporkan terjadi di Desa Haurkuning, Kecamatan Nusaherang. Pohon asam dengan tinggi sekitar 17 meter dan diameter sekitar 0,5 meter tumbang hingga melintang di Jalan Raya Kuningan-Ciamis. Pohon tersebut juga menimpa jaringan kabel listrik PLN sehingga mengganggu akses jalan dan membutuhkan penanganan petugas. Proses pembersihan berlangsung hingga sekitar pukul 19.27 WIB sebelum akses jalan kembali terbuka.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menyampaikan bahwa berdasarkan pendataan sementara, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Tidak ada pula laporan warga yang mengalami luka-luka akibat peristiwa cuaca ekstrem di wilayah terdampak. Meski demikian, beberapa keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat harus dipindahkan sementara ke tempat yang lebih aman, seperti rumah saudara atau tetangga terdekat. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko yang dapat muncul apabila penghuni tetap berada di bangunan yang mengalami kerusakan berat.
Penanganan di lokasi melibatkan petugas BPBD bersama unsur TNI, Polri, PLN, aparat pemerintah setempat, serta masyarakat. Petugas melakukan evakuasi pohon tumbang, membersihkan material yang menghalangi jalan, dan membantu warga yang rumahnya mengalami kerusakan. Salah satu akses yang sempat terganggu adalah jalur penghubung Mekarsari-Cipakem akibat pohon tumbang. Petugas juga melakukan koordinasi terkait jaringan listrik yang terdampak agar penanganan dapat berjalan dengan baik. Hingga Kamis malam, kondisi di sejumlah lokasi berangsur terkendali dan proses pembersihan masih dilakukan.
BPBD Kabupaten Kuningan juga melanjutkan pendataan terhadap bangunan yang mengalami kerusakan untuk mengetahui kondisi terbaru di lapangan. Warga yang rumahnya terdampak diminta memperhatikan kondisi atap, dinding, serta bagian bangunan lain yang berpotensi membahayakan apabila kembali digunakan. Kejadian pada Kamis, 29 Oktober 2026, tersebut menjadi salah satu peristiwa cuaca ekstrem yang berdampak pada permukiman di Kecamatan Maleber. Dengan total 80 rumah terdampak di empat desa, Desa Mekarsari menjadi wilayah yang mencatat jumlah kerusakan paling banyak, yakni 62 rumah. Penanganan dan pendataan dilakukan untuk membantu masyarakat serta mengetahui kebutuhan pemulihan setelah kejadian tersebut.

