Lampung, Harianmedia — Puluhan siswa SDN 1 dan SDN 2 Gunung Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis, 24 September 2026. Para siswa dilaporkan mengalami pusing dan mual. Beberapa siswa bahkan sempat tidak sadarkan diri setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Makanan MBG yang dibagikan kepada para siswa pada Kamis itu terdiri atas nasi, sayur, bakso, dan susu kotak. Tidak lama setelah makanan dikonsumsi, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka. Keluhan yang muncul berupa pusing dan mual.
Dalam kejadian tersebut, beberapa siswa dilaporkan sempat tidak sadarkan diri. Kondisi itu kemudian menjadi perhatian karena para siswa merupakan penerima program MBG yang seharusnya mendapatkan makanan untuk mendukung pemenuhan gizi.
Dugaan keracunan yang dialami para siswa kemudian mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lampung Tengah. Ketua LPA Lampung Tengah, Eko Yuono, menyatakan keprihatinannya atas kejadian yang dialami siswa SDN 1 dan SDN 2 Gunung Agung.
Eko menilai kejadian tersebut perlu menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan keselamatan anak-anak yang menerima makanan dari program MBG. Menurutnya, pihak terkait perlu segera melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa.
LPA Lampung Tengah juga meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Agung menghentikan sementara operasionalnya. Penghentian tersebut diminta dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan terhadap kejadian yang dialami para siswa.
Permintaan tersebut kemudian diikuti dengan tindakan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Operasional dapur SPPG di Kampung Gunung Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, dihentikan sementara atau disuspend oleh BGN.
Penghentian sementara tersebut dilakukan setelah adanya kejadian yang dialami puluhan siswa SDN 1 dan SDN 2 Gunung Agung setelah menyantap menu MBG pada Kamis, 24 September 2026.
Person in Charge (PIC) Mitra SPPG, Hendra, membenarkan bahwa dapur SPPG yang dikelola Yayasan Penata Alam Bersama (YPAB) telah mendapat tindakan suspend dari BGN. Dengan adanya tindakan tersebut, operasional dapur SPPG untuk sementara dihentikan.
Hendra juga menjelaskan menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada hari kejadian. Makanan tersebut terdiri dari nasi, sayur, bakso, dan susu kotak. Setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan berupa pusing dan mual.
Beberapa siswa kemudian dilaporkan sempat tidak sadarkan diri. Kejadian tersebut menjadi dasar dilakukannya penghentian sementara terhadap operasional dapur SPPG yang menyediakan makanan MBG bagi para siswa di wilayah tersebut.
Hingga informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada para siswa belum disebutkan. Karena itu, dugaan keracunan tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu jenis makanan atau bahan tertentu sebelum pemeriksaan dilakukan.
Permintaan untuk menghentikan sementara operasional SPPG sebelumnya juga disampaikan LPA Lampung Tengah. Lembaga tersebut meminta pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya pusing, mual, hingga kondisi beberapa siswa yang sempat tidak sadarkan diri.
Kejadian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program MBG di tingkat satuan pendidikan menjadi perhatian ketika muncul keluhan kesehatan setelah makanan dikonsumsi. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan para siswa mengalami kondisi tersebut.
Selain kejadian di SDN 1 dan SDN 2 Gunung Agung, laporan mengenai dugaan keracunan MBG juga muncul di wilayah Lampung lainnya. Namun, informasi tersebut merupakan kejadian berbeda sehingga tidak dapat disamakan dengan peristiwa yang dialami siswa di Kecamatan Terusan Nunyai.
Untuk kasus di Gunung Agung, fakta yang telah disampaikan adalah adanya puluhan siswa yang mengalami pusing dan mual setelah menyantap makanan MBG pada Kamis, 24 September 2026. Beberapa siswa juga dilaporkan sempat tidak sadarkan diri.
Dapur SPPG di Kampung Gunung Agung yang dikelola Yayasan Penata Alam Bersama kemudian mendapat tindakan suspend dari BGN. Sementara itu, LPA Lampung Tengah meminta agar pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami para siswa.
Penghentian sementara operasional dapur tersebut menjadi bagian dari penanganan setelah munculnya kejadian yang melibatkan penerima program MBG. Penyebab pasti kondisi yang dialami para siswa masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan adanya suspend terhadap SPPG Gunung Agung, perhatian kini tertuju pada proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan setelah siswa mengonsumsi menu MBG. Hasil pemeriksaan nantinya diperlukan untuk memberikan kejelasan mengenai kejadian yang dialami para siswa SDN 1 dan SDN 2 Gunung Agung.

