Sulawesi Tenggara, Harianmedia — Puluhan siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, diare, hingga pusing dan lemas. Sejumlah siswa harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas pada Rabu, 14 Oktober 2026, setelah keluhan mulai muncul sehari sebelumnya.
Peristiwa ini bermula setelah para siswa mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Keluhan kesehatan dilaporkan mulai dirasakan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Kondisi sejumlah siswa kemudian memburuk pada malam hari hingga Rabu pagi, sehingga mereka membutuhkan pemeriksaan dan pertolongan dari tenaga kesehatan.
Kepala SMAN 10 Konawe Selatan, Liy, membenarkan adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan tersebut. Menurut informasi yang diterimanya, beberapa siswa mulai merasakan sakit perut dan mual setelah pulang sekolah pada Selasa sore. Keluhan itu berlanjut hingga malam hari dan semakin terasa ketika para siswa kembali beraktivitas pada keesokan harinya.
Pada Rabu pagi, sejumlah siswa mengalami mual, muntah, diare, dan tubuh lemas. Banyaknya siswa yang mengeluhkan kondisi serupa membuat pihak sekolah mengambil langkah untuk membawa mereka ke fasilitas kesehatan. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan di Puskesmas Angata.
Gangguan kesehatan tersebut tidak hanya dialami pelajar SMA. Sejumlah murid sekolah dasar di Kecamatan Angata juga dilaporkan mengalami gejala serupa. Sekolah yang disebut dalam laporan kejadian ini meliputi SD Negeri 1 Angata, SD Negeri 2 Angata, SD Negeri 4 Angata, dan SMAN 10 Konawe Selatan.
Berdasarkan data yang disampaikan Kapolres Konawe Selatan, AKBP Daeng Riandika Mahardani, sebanyak 63 siswa telah mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Angata. Jumlah tersebut terdiri dari 27 siswa sekolah dasar dan 36 siswa SMAN 10 Konawe Selatan.
Para siswa dari jenjang sekolah dasar berasal dari SD Negeri 1 Angata, SD Negeri 2 Angata, dan SD Negeri 4 Angata. Sementara itu, puluhan siswa lainnya merupakan pelajar SMAN 10 Konawe Selatan. Data tersebut menunjukkan bahwa keluhan kesehatan dilaporkan terjadi pada beberapa kelompok pelajar di wilayah yang sama.
Banyaknya pasien yang datang untuk mendapatkan pertolongan membuat Puskesmas Angata dipenuhi siswa. Pihak sekolah menyebutkan bahwa kapasitas fasilitas kesehatan tersebut sempat penuh ketika para siswa berdatangan untuk menjalani pemeriksaan. Situasi itu terjadi bersamaan dengan meningkatnya laporan keluhan kesehatan dari sejumlah sekolah.
Pada perkembangan berikutnya, Kepala Puskesmas Motaha, Sunding Tegangga, menyampaikan bahwa jumlah siswa yang diduga terdampak mencapai 102 orang. Angka tersebut merupakan data sementara yang dilaporkan pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan masih berpotensi berubah seiring pendataan lanjutan.
Puskesmas Motaha juga melakukan pemeriksaan terhadap para siswa yang mengalami gangguan kesehatan. Sampel medis telah diambil untuk membantu mengetahui penyebab keluhan yang dialami para pelajar. Namun, pada saat laporan tersebut disampaikan, hasil pemeriksaan sampel belum keluar.
Gejala yang ditemukan dalam pemeriksaan awal meliputi muntah, diare, dan sakit kepala. Keluhan tersebut membuat para siswa membutuhkan penanganan tenaga kesehatan. Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para pelajar belum dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala yang muncul.
Makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut disebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Angata di Desa Puao. Namun, keterkaitan makanan dengan gangguan kesehatan para siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Belum adanya hasil pemeriksaan sampel membuat penyebab kejadian ini belum dapat dinyatakan secara pasti.
Kepolisian Resor Konawe Selatan juga telah melakukan pengecekan terkait laporan tersebut. Kapolres Konawe Selatan menyatakan bahwa anggota kepolisian telah menangani informasi mengenai siswa yang menjalani perawatan. Pemeriksaan dilakukan untuk menelusuri kejadian serta memastikan kondisi yang menyebabkan para pelajar mengalami keluhan kesehatan.
Hingga Rabu, 14 Oktober 2026, belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Jumlah siswa yang dilaporkan terdampak juga berbeda dalam sejumlah pembaruan informasi, sehingga pendataan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan angka keseluruhan.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena melibatkan siswa dari beberapa sekolah di Kecamatan Angata. Penanganan medis terhadap para siswa dan pemeriksaan sampel diharapkan dapat membantu menjelaskan penyebab kejadian tersebut. Kepastian mengenai kaitan antara makanan MBG dan keluhan yang dialami para pelajar masih menunggu hasil pemeriksaan serta penelusuran pihak berwenang.

