512 Santri Sidoarjo Diduga Terdampak MBG, SPPG Kalitengah Dihentikan

Sumber Foto : Liputan6

Sidoarjo, Harianmedia — Sebanyak 512 santri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 1 September 2026, dan membuat ratusan penerima makanan harus mendapatkan pemeriksaan serta perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Kasus ini terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Para santri diketahui menerima makanan MBG yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

Keluhan kesehatan mulai dirasakan para santri beberapa jam setelah mengonsumsi makanan. Gejala yang dilaporkan antara lain mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, lemas, hingga keluhan lainnya. Para santri yang mengalami kondisi tersebut kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.

Jumlah santri yang mengalami keluhan terus didata oleh pemerintah dan petugas kesehatan. Dalam perkembangan awal, sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam telah dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan. Perkembangan pendataan kemudian menunjukkan jumlah penerima yang diduga

Data tersebut masih dapat berubah karena petugas terus melakukan pendataan terhadap penerima MBG yang mengalami keluhan kesehatan. Selain santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, keluhan serupa juga dilaporkan pada sejumlah sekolah yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah.

Dalam perkembangan berikutnya, rekapitulasi dari jaringan penerima makanan SPPG Kalitengah bahkan mencatat jumlah korban bergejala mencapai 566 orang dari 19 lembaga pendidikan. Perbedaan angka tersebut terjadi karena pendataan dilakukan melalui sejumlah fasilitas kesehatan dan lembaga pendidikan yang menerima pasokan dari dapur yang sama.

Pemerintah kemudian mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah di Kecamatan Tanggulangin. Penghentian dilakukan sambil menunggu pemeriksaan laboratorium dan evaluasi untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada para penerima MBG.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa penghentian sementara operasional SPPG dilakukan sebagai bagian dari penanganan kasus. Pemeriksaan terhadap makanan dan proses penyediaannya diperlukan sebelum diketahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Sampel makanan juga telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat masalah pada bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi makanan kepada para penerima program.

Pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang telah dikonsumsi. Tim terkait juga menelusuri proses produksi makanan di SPPG Kalitengah. Pemeriksaan mencakup bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga proses pengiriman makanan ke sekolah dan pesantren penerima manfaat.

Sementara itu, para santri yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan. Sejumlah rumah sakit di Sidoarjo disiapkan untuk menangani pasien yang datang setelah mengalami gangguan kesehatan. Pemerintah daerah juga melakukan pemantauan terhadap kondisi para pasien yang masih menjalani perawatan.

Kepala SPPG Kalitengah menyatakan bahwa proses persiapan, memasak, pengiriman, hingga pencicipan makanan sebelumnya dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Namun, penyebab munculnya keluhan kesehatan pada para penerima MBG masih belum dapat dipastikan dan menunggu hasil pemeriksaan.

Menu MBG yang dikonsumsi para santri pada hari kejadian dilaporkan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Makanan tersebut disalurkan kepada para penerima melalui SPPG Kalitengah.

Pihak pesantren juga menjelaskan bahwa makanan MBG yang dikonsumsi para santri bukan dimasak oleh pihak pesantren. Makanan tersebut berasal dari SPPG Kalitengah yang menjadi dapur penyedia makanan program MBG untuk para penerima manfaat di wilayah tersebut.

Hingga Rabu, 2 September 2026, pemerintah masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kejadian. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah selanjutnya terhadap operasional SPPG Kalitengah.

Pemerintah juga terus memperbarui data jumlah penerima yang mengalami keluhan dan kondisi mereka setelah mendapatkan perawatan. Perbedaan angka korban yang muncul dalam sejumlah pendataan menunjukkan bahwa proses pencatatan masih berlangsung.

Penghentian sementara SPPG Kalitengah dilakukan untuk memastikan proses pemeriksaan dapat berjalan dan tidak ada distribusi makanan dari dapur tersebut selama evaluasi berlangsung. Keputusan berikutnya mengenai operasional SPPG akan ditentukan setelah hasil investigasi dan pemeriksaan selesai.

Sampai saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri belum dapat disimpulkan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta hasil investigasi terhadap seluruh proses penyediaan dan distribusi makanan MBG.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *