Sulawesi Barat, Harianmedia — Kebakaran melanda kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah yang berada di Mamuju, Sulawesi Barat, pada Minggu, 19 April 2026, sekitar pukul 12.00 WITA. Peristiwa ini menghanguskan sejumlah bangunan yang berada di dalam area pesantren dan sempat menimbulkan kepanikan di kalangan warga sekitar serta penghuni pondok.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, api pertama kali terlihat muncul dari area pos sekuriti yang berada di bagian depan kompleks. Dugaan sementara menyebutkan bahwa kebakaran dipicu oleh korsleting listrik. Saat kejadian, terdapat beberapa perangkat elektronik yang masih terhubung dengan aliran listrik, seperti kipas angin, dispenser, dan terminal listrik, yang diduga menjadi pemicu awal munculnya percikan api.
Dalam waktu singkat, api membesar dan mulai merambat ke bangunan lain di sekitar lokasi. Material bangunan yang mudah terbakar serta kondisi cuaca yang cukup panas diduga turut mempercepat penyebaran api. Kepulan asap hitam tebal terlihat membumbung tinggi dan dapat disaksikan dari jarak cukup jauh, menarik perhatian warga sekitar untuk mendekat ke lokasi kejadian.
Sejumlah bangunan yang terdampak dalam peristiwa ini antara lain pos sekuriti, kantor baitul mal, serta beberapa ruang kelas yang digunakan untuk kegiatan pendidikan. Ruang kelas yang terbakar mencakup fasilitas pendidikan tingkat PAUD, taman kanak-kanak, hingga sekolah dasar. Diperkirakan sekitar lima hingga enam ruangan mengalami kerusakan akibat dilalap api.
Para penghuni pondok dan warga sekitar berupaya melakukan pemadaman awal dengan peralatan seadanya sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Namun, besarnya kobaran api membuat upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal. Situasi sempat menegangkan karena api terus membesar dan mengancam bangunan lain di sekitarnya.
Tidak lama kemudian, sejumlah unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kejadian. Petugas gabungan yang terdiri dari pemadam kebakaran, aparat kepolisian, serta unsur terkait lainnya langsung melakukan upaya pemadaman. Proses pemadaman berlangsung cukup intens mengingat api sudah terlanjur membesar dan menyebar ke beberapa titik.
Petugas berjibaku menjinakkan api dengan menyemprotkan air ke titik-titik yang paling terdampak. Selain itu, upaya penyekatan juga dilakukan untuk mencegah api merambat lebih luas ke bangunan lain yang masih utuh. Setelah kurang lebih satu jam proses pemadaman berlangsung, api akhirnya berhasil dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya.
Meski kebakaran menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa ini. Seluruh penghuni pondok berhasil menyelamatkan diri saat api mulai membesar. Hal ini menjadi kabar baik di tengah kerugian material yang ditimbulkan akibat kebakaran tersebut.
Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan cukup signifikan, mengingat bangunan yang terbakar merupakan fasilitas penting untuk kegiatan pendidikan dan operasional pesantren. Sejumlah peralatan belajar, perlengkapan administrasi, serta fasilitas penunjang lainnya dilaporkan ikut hangus terbakar.
Pasca kejadian, pihak terkait mulai melakukan pendataan terhadap bangunan yang terdampak serta menghitung total kerugian yang ditimbulkan. Selain itu, langkah-langkah pemulihan juga mulai direncanakan agar aktivitas pendidikan di pesantren dapat segera berjalan kembali.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa dugaan awal penyebab kebakaran adalah korsleting listrik, namun penyelidikan lebih lanjut tetap akan dilakukan untuk memastikan penyebab pasti dari insiden tersebut. Pemeriksaan terhadap instalasi listrik di lokasi kejadian juga menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Selain fokus pada penyelidikan, pihak berwenang juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi terkait kelangsungan kegiatan belajar mengajar di pesantren. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penyediaan tempat belajar sementara bagi para siswa agar proses pendidikan tidak terganggu dalam jangka waktu lama.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengecekan rutin terhadap instalasi listrik, terutama di lingkungan yang memiliki banyak penggunaan perangkat elektronik. Korsleting listrik kerap menjadi salah satu penyebab utama kebakaran, khususnya di bangunan yang memiliki instalasi listrik yang sudah lama atau tidak terawat dengan baik.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut mengaku terkejut dengan cepatnya api membesar. Banyak di antara mereka yang langsung membantu proses evakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kebersamaan dan kepedulian warga terlihat jelas dalam situasi darurat tersebut.
Di sisi lain, pihak pesantren diharapkan dapat segera melakukan perbaikan terhadap fasilitas yang rusak agar kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan normal. Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan pascakebakaran ini.
Meski dilanda musibah, kondisi yang tanpa korban jiwa memberikan harapan bagi semua pihak untuk bangkit kembali. Fokus utama saat ini adalah memastikan para siswa tetap dapat melanjutkan kegiatan belajar serta mempercepat proses rehabilitasi bangunan yang terdampak.
Ke depan, langkah pencegahan diharapkan menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penggunaan perangkat yang sesuai standar, serta peningkatan kesadaran akan bahaya kebakaran menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh semua pihak.
Kebakaran di Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju ini menjadi salah satu peristiwa yang menyita perhatian masyarakat. Selain menimbulkan kerugian material, kejadian ini juga memberikan pelajaran penting tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.
Dengan telah padamnya api dan dimulainya proses pemulihan, diharapkan kondisi pesantren dapat segera kembali normal. Aktivitas pendidikan yang sempat terganggu diharapkan bisa berjalan kembali dalam waktu dekat dengan dukungan berbagai pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

