Sumatera Utara, Harianmedia — Peristiwa dugaan pencurian uang sumbangan terjadi di sebuah rumah duka di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Kamis, 22 Januari 2026. Seorang wanita diduga mengambil uang sumbangan yang disediakan untuk keluarga korban kecelakaan kereta api yang meninggal dunia sehari sebelumnya. Aksi itu diketahui warga dan langsung direspons dengan mengamankan wanita tersebut di lokasi kejadian.
Lokasi kejadian berada di Gang Arjuna, Dusun I, Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Rumah itu menjadi tempat berkumpul keluarga dan kerabat dari empat warga yang tewas setelah tertabrak kereta api di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada Rabu, 21 Januari 2026.
Peristiwa bermula ketika sejumlah warga tengah berkumpul di rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan kepada keluarga korban. Suasana rumah yang ramai diisi pelayat dimanfaatkan oleh seorang wanita yang berpakaian tertutup lengkap dengan penutup kepala untuk mendekat dan berbaur dengan pengunjung.
Wanita yang diperkirakan berusia sekitar 40 tahunan itu berjalan di sekitar lokasi dengan membawa ember atau wadah yang biasa digunakan untuk menampung uang sumbangan. Tanpa diketahui awalnya oleh sebagian warga, ia diduga mengambil sejumlah uang sumbangan yang tersimpan di ember tersebut.
Seorang warga yang berada di lokasi melayat menyadari gerak-gerik wanita itu dan kemudian memperingatkan warga lain di sekitarnya. Warga yang curiga segera mengamati dan mengecek isi ember sumbangan, lalu mengetahui bahwa sebagian uang telah hilang. Lamanya suasana penuh duka itu berubah menjadi kegaduhan seketika ketika warga mengetahui adanya dugaan pencurian.
Begitu mengetahui tindakannya diketahui warga, wanita tersebut langsung dikerumuni oleh sejumlah orang dan diamankan di tempat kejadian. Ia kemudian dibawa oleh warga ke hadapan kepala desa serta perangkat desa setempat untuk dilakukan pemeriksaan singkat terkait perbuatannya.
Dalam suasana itu, wanita tersebut tampak memelas dan sempat mengucapkan permohonan maaf atas aksinya. Ia mengaku mengambil sejumlah uang yang diperkirakan sekitar Rp30 ribu dari ember sumbangan di depan rumah duka. Namun, warga tetap menghentikan aksinya dan menyampaikan kejadian ini kepada kepala desa dan perangkat desa yang berada di lokasi.
Ketika peristiwa itu terjadi, sejumlah pelayat lainnya yang hadir di rumah duka menyatakan rasa kaget dan tidak menyangka bahwa kejadian semacam itu bisa terjadi di tengah momen duka. Sebagian pelayat mengungkapkan kekesalan mereka atas dugaan tindakan tersebut, karena waktu itu merupakan momen yang seharusnya digunakan untuk saling menguatkan satu sama lain.
Kepala desa Desa Mekar Sari setempat kemudian mengambil keputusan untuk memboyong wanita tersebut bersama warga dan perangkat desa ke rumah kepala dusun yang berada tidak jauh dari lokasi rumah duka. Hal ini dilakukan untuk meredam emosi warga yang mulai memanas dan menghindari kejadian yang tidak diinginkan, seperti benturan fisik antara warga dan wanita yang diduga mengambil uang sumbangan.
Saat diboyong ke lokasi tersebut, beberapa warga sempat menyoraki wanita itu dan mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap tindakannya. Upaya perangkat desa dan kepala desa dilakukan untuk menjaga ketertiban serta mengantisipasi potensi gesekan di antara warga yang masih dalam suasana duka.
Hingga tulisan ini disusun, identitas lengkap wanita tersebut belum diketahui secara resmi oleh aparat desa maupun warga sekitar. Menurut keterangan awal dari pihak desa, wanita itu tidak membawa kartu identitas resmi saat kejadian berlangsung. Saat diminta keterangan, ia menyatakan berasal dari wilayah sekitar Kabupaten Deli Serdang, namun tidak dikenal sebagai warga tetap setempat.
Para pelayat dan warga yang menyaksikan langsung kejadian itu mengatakan bahwa peristiwa pengambilan uang sumbangan di rumah duka tidak mencerminkan rasa empati dan solidaritas yang seharusnya muncul dalam suasana seperti itu. Mereka berharap agar kasus ini dapat diselesaikan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan diikuti dengan tindakan yang tepat terhadap pihak yang diduga bersalah.
Peristiwa ini juga menjadi bahan pembicaraan di antara warga sekitar Desa Mekar Sari dan masyarakat luar yang mendengar kabar tersebut. Sebagian warga berharap agar kejadian itu menjadi pelajaran bagi masyarakat luas agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban saat melakukan aktivitas sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu, keluarga korban kecelakaan kereta api yang sedang berduka menerima perhatian dari berbagai pihak, baik dari keluarga jauh maupun tetangga dan masyarakat umum. Momen berkumpulnya warga di rumah duka itu semula merupakan bentuk solidaritas dan dukungan emosional kepada keluarga yang berduka, sebelum peristiwa dugaan pencurian tersebut terjadi.
Perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat juga memberikan arahan kepada warga agar tetap tenang dan menghindari tindakan yang bisa memperburuk suasana emosional yang sedang dialami oleh keluarga korban maupun pihak lainnya. Mereka mengimbau warga untuk menyerahkan penanganan kejadian tersebut kepada pihak berwenang jika diperlukan.
Sejauh ini, kejadian tersebut telah menjadi sorotan masyarakat sekitar, sekaligus mengingatkan kembali pentingnya rasa saling menghormati dalam situasi yang berkaitan dengan duka dan solidaritas sosial. Warga di lingkungan tersebut menyatakan pentingnya saling menjaga norma dan etika ketika hadir dalam momen-momen penting seperti kegiatan melayat, terutama saat duka datang kepada sesama.

