Pekalongan, Harianmedia — Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik setelah video penampilan sejumlah peserta beredar luas di media sosial. Kostum dan aksi teatrikal yang ditampilkan dalam karnaval tersebut menuai beragam tanggapan karena dinilai memiliki visual yang tidak biasa.
Karnaval itu berlangsung pada Kamis malam, 10 September 2026, di wilayah Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah kelompok peserta menampilkan berbagai kreasi dengan kostum dan konsep pertunjukan yang berbeda-beda.
Salah satu penampilan yang kemudian menjadi sorotan memperlihatkan peserta menggunakan kostum bernuansa menyeramkan. Beberapa di antaranya tampak mengenakan pakaian berwarna hitam dengan tampilan wajah yang dibuat menyerupai sosok monster. Ada pula peserta yang menggunakan pakaian putih dengan penutup kepala berbentuk lancip serta membawa peti mati berwarna putih.
Potongan video penampilan tersebut kemudian beredar di media sosial. Perhatian publik semakin besar karena dalam salah satu bagian pertunjukan terdapat adegan penyembelihan kambing.
Adegan tersebut dilakukan dalam rangkaian koreografi yang dibawakan peserta. Dalam video yang beredar, kambing terlihat berada di area pertunjukan sebelum kemudian disembelih. Tampilan panggung, kostum, serta sejumlah properti yang digunakan membuat sebagian orang di media sosial mengaitkannya dengan gambaran ritual tertentu.
Namun, anggapan tersebut tidak dapat langsung dijadikan kesimpulan mengenai maksud sebenarnya dari pertunjukan. Perwakilan kelompok peserta yang membawakan penampilan tersebut telah memberikan klarifikasi mengenai konsep yang mereka tampilkan.
Perwakilan Tim Simone atau Simbang Gang One, Muhammad Akhid, menyampaikan bahwa penampilan tersebut tidak dimaksudkan sebagai ritual tertentu. Ia juga mengakui adanya kekurangan dalam memahami referensi yang digunakan untuk membuat konsep pertunjukan.
Akhid menyampaikan permintaan maaf atas penampilan yang kemudian menimbulkan polemik. Menurutnya, tim yang tampil menyesal karena kurang memahami konteks dari referensi yang digunakan dalam pertunjukan.
Keterangan tersebut menjadi salah satu penjelasan penting setelah video penampilan peserta menyebar luas. Sebab, sejumlah simbol dan properti yang terlihat dalam video telah memunculkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.
Panitia SKNC 2026 juga memberikan klarifikasi mengenai kegiatan tersebut. Perwakilan panitia, Ziyad Azizi, mengatakan pihak panitia membenarkan bahwa karnaval digelar pada Kamis malam, 10 September 2026. Namun, panitia mengaku tidak mengetahui secara rinci mengenai proses maupun maksud dari penampilan yang kemudian menjadi sorotan.
Panitia kemudian menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan. Klarifikasi tersebut dilakukan setelah muncul perhatian luas terhadap video penampilan peserta yang beredar di media sosial.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan turut menanggapi polemik tersebut. Pemerintah daerah menyatakan akan meminta penjelasan dari panitia mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam pertunjukan tersebut.
Pemerintah daerah juga berencana berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan masukan mengenai persoalan yang muncul. Masyarakat diminta tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses klarifikasi dilakukan secara menyeluruh.
Perhatian terhadap SKNC 2026 tidak hanya muncul karena kostum peserta. Adegan penyembelihan kambing dalam salah satu pertunjukan menjadi bagian yang paling banyak diperbincangkan setelah video beredar.
Menurut penjelasan dari perwakilan Tim Simone, kambing tersebut memang telah direncanakan untuk disembelih setelah kegiatan. Penyembelihan itu disebut tidak dimaksudkan sebagai bagian dari ritual, melainkan berkaitan dengan rencana untuk memasak atau makan bersama setelah acara selesai.
Dengan adanya penjelasan tersebut, adegan yang sebelumnya menimbulkan berbagai tafsir memiliki konteks berbeda dari dugaan yang beredar di media sosial. Meski demikian, penampilan tersebut tetap menjadi perhatian karena cara penyajiannya dianggap menimbulkan salah persepsi.
Selain persoalan kostum dan adegan dalam pertunjukan, kabar mengenai seorang peserta yang mengikuti karnaval juga sempat beredar. Peserta tersebut diketahui bernama Ahmad Faiz, warga Simbang Kulon.
Faiz mengikuti karnaval pada Kamis malam dengan mengenakan kostum yang menjadi bagian dari penampilan peserta. Aksi Faiz saat masih mengenakan kostum kemudian turut beredar melalui media sosial.
Faiz dilaporkan meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan tersebut. Berdasarkan keterangan yang diberitakan, ia diduga mengalami kelelahan setelah menjalani persiapan untuk kegiatan karnaval.
Informasi mengenai Faiz menjadi perhatian karena muncul bersamaan dengan ramainya pembahasan mengenai penampilan peserta. Namun, kabar tersebut tidak menjadi dasar untuk menghubungkan peristiwa yang dialaminya dengan kostum maupun konsep pertunjukan yang menjadi polemik.
Pemberitaan mengenai Faiz menyebut ia tetap menjalani aktivitas menjelang kegiatan karnaval dan mengalami kelelahan. Karena itu, informasi mengenai kondisi tersebut perlu ditempatkan secara terpisah dari polemik mengenai kostum dan adegan dalam pertunjukan.
Sementara itu, SKNC 2026 sendiri merupakan kegiatan tahunan masyarakat di Simbang Kulon. Pada pelaksanaan tahun ini, karnaval diikuti oleh 25 barisan yang berasal dari 25 musala di wilayah tersebut.
Peserta membawa berbagai bentuk kreativitas dalam karnaval. Tidak semua penampilan yang ditampilkan menjadi sorotan. Perhatian terbesar muncul pada kelompok yang menggunakan kostum bernuansa menyeramkan serta menampilkan adegan teatrikal dengan sejumlah properti yang dianggap tidak biasa.
Video yang beredar di media sosial kemudian membuat penampilan tersebut dikenal lebih luas di luar lokasi kegiatan. Potongan video yang hanya menampilkan bagian tertentu dari pertunjukan juga membuat masyarakat memberikan penilaian berdasarkan apa yang terlihat dalam rekaman.
Kondisi tersebut membuat klarifikasi dari panitia dan peserta menjadi penting untuk menjelaskan maksud dari penampilan. Terlebih, terdapat perbedaan antara persepsi sebagian masyarakat dengan penjelasan dari kelompok yang membuat pertunjukan.
Tim Simone menyatakan tidak bermaksud menampilkan sesuatu yang berkaitan dengan ritual tertentu. Mereka juga mengakui adanya kekurangan dalam memahami referensi yang digunakan saat menyiapkan penampilan.
Panitia juga telah menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang muncul. Penjelasan tersebut disampaikan setelah pihak panitia mengetahui bahwa salah satu penampilan dalam SKNC 2026 mendapat perhatian luas.
Di sisi lain, pemerintah daerah masih memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Proses klarifikasi diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai konsep pertunjukan, persiapan peserta, serta alasan penggunaan sejumlah properti dalam penampilan.
Sorotan terhadap SKNC 2026 menunjukkan bagaimana sebuah pertunjukan yang berlangsung dalam waktu singkat dapat menjadi perhatian luas setelah potongan videonya tersebar di media sosial. Kostum yang digunakan peserta, properti yang dibawa, serta adegan teatrikal menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan.
Meski begitu, istilah atau penilaian yang muncul di media sosial tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai fakta mengenai maksud sebuah pertunjukan. Dalam kasus SKNC 2026, pihak peserta justru memberikan penjelasan bahwa penampilan tersebut bukan dimaksudkan sebagai ritual tertentu.
Penyembelihan kambing juga telah diberikan penjelasan oleh pihak yang terlibat dalam pertunjukan. Kambing tersebut disebut memang telah disiapkan untuk disembelih dan rencananya dimanfaatkan untuk kegiatan setelah acara.
Dengan demikian, polemik yang muncul berawal dari visual pertunjukan yang dinilai sebagian masyarakat memiliki kemiripan dengan simbol atau gambaran tertentu. Sementara pihak peserta memberikan penjelasan berbeda mengenai maksud dari penampilan tersebut.
Simbang Kulon Night Carnival 2026 kini menjadi perhatian bukan hanya bagi masyarakat setempat, tetapi juga publik yang melihat video penampilan peserta melalui media sosial. Kostum unik, properti pertunjukan, dan aksi teatrikal menjadi bagian yang membuat kegiatan tersebut ramai diperbincangkan.
Panitia dan peserta telah menyampaikan klarifikasi serta permintaan maaf atas penampilan yang menimbulkan polemik. Pemerintah daerah juga mengambil langkah dengan meminta penjelasan lebih lanjut agar persoalan tersebut dapat dipahami berdasarkan informasi yang lebih lengkap.
Sampai saat ini, fakta yang dapat dipastikan adalah karnaval berlangsung pada 10 September 2026 di Simbang Kulon, Kabupaten Pekalongan, dan salah satu penampilannya menjadi sorotan setelah video beredar di media sosial. Peserta menggunakan sejumlah kostum dan properti bernuansa menyeramkan serta menampilkan adegan penyembelihan kambing.
Sementara itu, anggapan bahwa pertunjukan tersebut merupakan ritual tertentu telah dibantah oleh pihak peserta. Mereka menyatakan penampilan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghadirkan ritual tertentu dan telah menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang terjadi.

