Tapanuli, Harianmedia — Peristiwa memilukan terjadi di wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ketika seorang anak berusia 12 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Aek Tolang. Kejadian ini terjadi pada Jumat, 24 April 2026, dan menyita perhatian warga sekitar karena korban diketahui sempat berusaha menolong temannya sebelum akhirnya hilang terbawa arus.
Korban berinisial DP (12), merupakan warga Kelurahan Sibuluan Terpadu. Pada hari kejadian, korban bersama sejumlah temannya menghabiskan waktu di sekitar sungai. Aktivitas tersebut berlangsung pada sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, di area bawah Jembatan Fransiskus yang berada di Kelurahan Aek Tolang, Kecamatan Pandan.
Menurut keterangan warga, saat itu korban dan teman-temannya sedang bermain sekaligus mandi di sungai. Kondisi sungai saat itu diketahui cukup keruh dan arus air terbilang deras, terutama setelah hujan mengguyur wilayah tersebut. Meski demikian, anak-anak tetap beraktivitas di sekitar aliran sungai.
Situasi berubah ketika salah satu teman korban tiba-tiba terbawa arus sungai. Melihat kondisi tersebut, korban dengan spontan berusaha memberikan pertolongan. Tindakan tersebut dilakukan tanpa ragu, sebagai bentuk kepedulian terhadap temannya yang sedang dalam bahaya.
Namun nahas, upaya penyelamatan itu justru berujung petaka. Korban ikut terseret arus sungai yang cukup kuat dan akhirnya menghilang dari permukaan. Sementara itu, teman yang sebelumnya hanyut berhasil menyelamatkan diri dari arus sungai.
Setelah kejadian tersebut, teman-teman korban yang berada di lokasi sempat panik. Namun, informasi mengenai hilangnya korban tidak langsung dilaporkan kepada orang tua atau warga sekitar. Hal ini menyebabkan proses pencarian tidak dapat segera dilakukan setelah kejadian berlangsung.
Orang tua korban yang merasa anaknya tidak kunjung pulang mulai melakukan pencarian secara mandiri. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa korban terakhir terlihat bermain di sekitar Sungai Aek Tolang bersama teman-temannya. Informasi tersebut kemudian menjadi titik awal pencarian lebih lanjut.
Mengetahui adanya dugaan korban tenggelam, pihak keluarga bersama warga segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait. Laporan tersebut diteruskan ke tim SAR Sibolga serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah untuk mendapatkan bantuan pencarian.
Tim gabungan kemudian bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Proses pencarian dilakukan dengan menyisir aliran sungai dari hulu hingga hilir. Pencarian tidak hanya dilakukan oleh petugas, tetapi juga melibatkan warga sekitar yang turut membantu upaya tersebut.
Kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim pencari. Air sungai yang keruh serta suasana yang mulai gelap menyulitkan proses pencarian. Meski demikian, upaya pencarian tetap dilakukan hingga malam hari dengan menggunakan perahu karet dan alat penerangan seadanya.
Selain penyisiran di permukaan, beberapa petugas juga melakukan penyelaman di titik-titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi korban. Upaya ini dilakukan secara menyeluruh guna mempercepat proses penemuan korban.
Setelah beberapa jam pencarian, korban akhirnya berhasil ditemukan pada malam hari sekitar pukul 22.22 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi tersangkut di bagian akar pohon tumbang yang berada di aliran sungai.
Penemuan tersebut sekaligus memastikan bahwa korban telah meninggal dunia. Tim kemudian melakukan proses evakuasi dengan hati-hati. Jenazah korban dimasukkan ke dalam kantong jenazah sebelum dibawa ke rumah sakit untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.
Proses evakuasi berlangsung dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tim SAR, BPBD, aparat keamanan, serta masyarakat setempat. Kerja sama ini menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pencarian dan penanganan korban.
Komandan Pos SAR Sibolga membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dari warga. Tim yang diturunkan terdiri dari personel SAR, BPBD, serta dibantu unsur lainnya di lapangan.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Tindakan korban yang berusaha menyelamatkan temannya menunjukkan keberanian dan kepedulian, meski berakhir dengan kehilangan nyawa. Warga sekitar juga turut merasakan kesedihan atas kejadian tersebut.
Kondisi Sungai Aek Tolang yang memiliki arus cukup deras menjadi salah satu faktor risiko dalam kejadian ini. Terlebih saat kondisi cuaca hujan, debit air meningkat dan arus menjadi lebih kuat, sehingga berbahaya bagi aktivitas di sekitar sungai.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak di area yang memiliki potensi bahaya. Pengawasan yang lebih ketat diharapkan dapat mencegah terjadinya peristiwa serupa di kemudian hari.
Selain itu, penting juga untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai risiko bermain di sungai, terutama saat kondisi air tidak stabil. Edukasi terkait keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi kecelakaan.
Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya respons cepat dalam situasi darurat. Keterlambatan informasi dapat berdampak pada lambatnya proses penanganan. Oleh karena itu, pelaporan segera menjadi hal yang sangat penting ketika terjadi kejadian serupa.
Hingga saat ini, peristiwa tersebut menjadi perhatian warga di sekitar lokasi. Kejadian ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menjadi pelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya keselamatan dan kewaspadaan dalam beraktivitas di lingkungan yang berisiko.
Dengan adanya kejadian ini, diharapkan semua pihak dapat lebih berhati-hati dan meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan, terutama bagi anak-anak yang kerap bermain di lingkungan terbuka seperti sungai.

