Harianmedia.com — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengonfirmasi bahwa varian influenza A H3N2, termasuk subclade K, yang kadang disebut super flu, telah terdeteksi di wilayah Indonesia pada akhir Desember 2025. Temuan ini didasarkan pada hasil surveilans laboratorium dan pemeriksaan genomik yang menunjukkan keberadaan virus tersebut di sampel yang dikirim ke laboratorium kesehatan pada 25 Desember 2025.
Namun, Kemenkes menegaskan bahwa meskipun sudah teridentifikasi, varian ini belum dominan di seluruh kasus influenza nasional, dan epidemi influenza di Indonesia saat ini tetap dalam kendali. Sementara virus influenza jenis A secara umum memang termasuk dalam salah satu penyebab utama flu musiman, varian subclade K baru menunjukkan kehadiran yang terdeteksi melalui teknologi genomik, bukan disebabkan lonjakan kasus yang tak terkontrol.
Deteksi virus ini mendapatkan perhatian publik dan tenaga kesehatan karena wabah influenza A, terutama subtipe H3N2, telah dilaporkan di sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat dan beberapa kawasan di Eropa, terutama pada musim dingin akhir 2025. Aktivitas influenza yang tinggi di luar negeri ini menjadi alasan otoritas kesehatan berbagai negara memperhatikan potensi penyebaran dan dampaknya.
Awal Mula Munculnya Varian H3N2 dan Perhatian Global
Virus influenza A subtipe H3N2 telah lama menjadi bagian dari lingkup epidemi influenza global. Pada musim flu 2024–2025 di berbagai negara, jenis influenza ini menjadi salah satu penyebab utama lonjakan kasus yang dicatat oleh sistem surveilans kesehatan internasional. Selain itu, varian H3N2 subclade K yang dijuluki super flu semakin menarik perhatian setelah pada beberapa negara dilaporkan adanya peningkatan jumlah kasus influenza yang cepat menular.
Istilah super flu sendiri digunakan oleh media dan pembicaraan publik untuk menggambarkan varian influenza yang terdeteksi dengan kemampuan penyebaran yang tinggi, namun istilah ini bukan merupakan nama resmi atau klasifikasi ilmiah baru dari virus influenza. Secara biologis, virus yang dimaksud tetaplah influenza A H3N2 dengan variasi genetik tertentu yang teridentifikasi melalui pemeriksaan genomik.
Bagaimana Varian Ini Terdeteksi di Indonesia
Deteksi influenza subclade K atau varian baru tidak terjadi melalui pemeriksaan klinis biasa di fasilitas kesehatan umum. Pemeriksaan tersebut umumnya dilakukan melalui metode genome sequencing, yaitu analisis genom virus pada sampel yang dikirim ke laboratorium khusus. Itulah mengapa diperlukan uji lanjutan untuk mengonfirmasi varian tertentu dalam virus influenza.
Menurut Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, temuan influenza A H3N2 subclade K pertama kali dilaporkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan pada tanggal 25 Desember 2025, setelah sampel yang dianalisis menunjukkan ciri genetik yang sesuai varian ini.
Meskipun telah teridentifikasi, dr. Prima menegaskan bahwa saat ini proporsi kasus influenza di Indonesia masih didominasi oleh influenza A H3N2 clade umum, dan tren kasus menunjukkan angka yang relatif menurun pada minggu ke-51 tahun 2025 dibanding minggu sebelumnya. Artinya, meskipun varian baru telah terdeteksi, kasus influenza secara keseluruhan tidak menunjukkan lonjakan dramatis di tanah air.
Gejala yang Terjadi dan Kelompok Rentan
Influenza A, termasuk varian H3N2, secara umum menimbulkan gejala yang mirip dengan flu musiman biasa. Beberapa gejala yang umum terjadi di antaranya termasuk demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.
Kemenkes juga menyampaikan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa subclade K menyebabkan gejala yang lebih berat dibandingkan dengan varian influenza yang sudah ada sebelumnya. Meski demikian, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu (komorbid) tetap dianjurkan untuk memperhatikan gejala dan menjalankan langkah pencegahan secara lebih serius karena mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi dari influenza umum.
Pengawasan Kesehatan yang Diperketat
Menanggapi temuan varian H3N2 subclade K di Indonesia, Kemenkes meningkatkan pengawasan kesehatan sebagai bagian dari strategi pencegahan dan mitigasi penyakit pernapasan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kemampuan surveilans genomik di laboratorium kesehatan nasional dan petugas surveilans memperluas cakupan pemeriksaan di titik pengiriman dan penerimaan sampel yang representatif.
Selain itu, fasilitas kesehatan juga diperintahkan untuk lebih waspada terhadap kasus influenza yang dilaporkan, termasuk memastikan pengelolaan pasien dengan gejala flu yang berat dan pemantauan terhadap penyakit saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikeluhkan masyarakat. Pengawasan ini juga mencakup koordinasi dengan otoritas bandara dan pelabuhan, untuk meningkatkan deteksi dini kasus pada pelancong internasional yang datang ke Indonesia.
Peningkatan pengawasan dan pemantauan ini bertujuan agar temuan varian baru seperti subclade K dapat segera diketahui pergerakannya dan tidak berkembang menjadi lonjakan kasus besar yang dapat membebani fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Vaksinasi dan Proteksi Individu
Meski virus influenza dapat bermutasi dari waktu ke waktu, vaksin influenza musiman yang tersedia saat ini tetap dianggap memiliki manfaat dalam mencegah dampak berat dari penyakit ini, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Hal ini ditekankan oleh otoritas kesehatan sebagai bagian dari langkah pencegahan yang direkomendasikan sepanjang musim flu.
Vaksinasi influenza juga dapat membantu mengurangi kemungkinan komplikasi bagi orang yang terinfeksi, terutama pada kelompok usia lanjut atau orang dengan penyakit kronis. Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat seperti sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta tetap berada di rumah saat sakit menjadi bagian penting dari pencegahan penularan penyakit pernapasan.
Peran Masyarakat dan Tenaga Kesehatan
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap gejala influenza yang muncul. Deteksi dini melalui pemeriksaan ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala yang tidak biasa tetap sangat penting. Tenaga kesehatan pun diharapkan terus mematuhi pedoman klinis dan melakukan pemeriksaan yang tepat, termasuk rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut jika kasus influenza menunjukkan tanda-tanda berat atau memerlukan penanganan intensif.
Kemenkes juga menekankan pentingnya komunikasi risiko yang baik antara otoritas kesehatan dengan masyarakat. Informasi yang transparan dan berdasarkan data ilmiah diharapkan dapat membantu masyarakat memahami situasi secara faktual sehingga tidak menimbulkan kecemasan berlebihan.
Hingga 31 Desember 2025, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah memastikan bahwa varian influenza A H3N2 subclade K telah terdeteksi di Indonesia, namun kasusnya belum dominan atau menunjukkan lonjakan yang tidak terkendali.
Pengawasan kesehatan diperketat melalui peningkatan surveilans genomik, pemantauan di fasilitas pelayanan kesehatan, dan koordinasi lintas sektor. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menerapkan langkah pencegahan penyakit pernapasan, dan memanfaatkan vaksin influenza sebagai bagian dari upaya perlindungan diri, terutama bagi kelompok rentan.

