Sukabumi, Harianmedia — Sejak Kamis (4 Desember 2025) malam hingga Jumat (5 Desember 2025), curah hujan tinggi mengguyur wilayah Kabupaten dan Kota Sukabumi, Jawa Barat. Hujan tak kunjung reda menyebabkan sungai serta saluran air meluap dan memicu banjir limpasan serta tanah longsor.
Menurut data dari tim BPBD Kabupaten Sukabumi via Pusdalops, ada sebanyak 19 kejadian bencana tercatat pada periode 4–5 Desember 2025, meliputi banjir, longsor, dan pergerakan tanah di berbagai kecamatan.
Titik Dampak & Rumah Warga Terendam
Beberapa wilayah terdampak dengan tingkat keparahan berbeda. Di antaranya, di Kampung Selaawi Kulon, Desa Warnasari, Kecamatan Kabupaten Sukabumi. Sebuah rumah milik warga bernama Ida Raidaryati terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar sepinggang orang dewasa.
Di sejumlah kecamatan, termasuk wilayah di bagian utara Kabupaten Sukabumi, dilaporkan terjadi longsor, ambruk rumah, dan jalan terputus karena longsoran serta pergerakan tanah.
Jalan, drainase, dan saluran air yang tersumbat membuat banjir limpasan makin cepat naik, terutama di kawasan dengan infrastruktur yang padat.
Evakuasi dan Respons Cepat
Begitu air mulai meluap dan longsor terjadi, warga setempat bersama petugas BPBD dan aparat desa langsung melakukan evakuasi. Di beberapa titik, warga dievakuasi ke tempat lebih aman. Tim tanggap darurat dikerahkan cepat untuk mengevakuasi warga, mendata dampak, dan membantu kebutuhan darurat.
Di pusat kota, petugas kelurahan dan tim dari pemerintah daerah turut turun tangan. Sejumlah titik banjir limpasan di wilayah perkotaan mendapat perhatian, terutama untuk membantu warga terdampak dan memantau kondisi saluran air.
Dampak Sosial dan Kondisi Warga
Banjir dan longsor membuat banyak warga kehilangan akses ke rumah, jalan, dan fasilitas dasar. Rumah terendam, beberapa jalan rusak atau tertutup longsoran, dan akses ke desa-desa terhambat karena pergerakan tanah. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan serta kebutuhan mendesak: air bersih, sanitasi, makanan, dan tempat tinggal sementara.
Beberapa warga yang terdampak memilih mengungsi ke rumah saudara atau tempat aman — kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari terhenti, sekolah maupun kegiatan ekonomi terpengaruh.
Statistik Awal & Data Kerusakan
Menurut laporan sementara, sejak 4–5 Desember 2025 tercatat 19 peristiwa bencana yang tersebar di banyak kecamatan.
Salah satu titik dengan kerusakan signifikan: rumah yang terendam sekitar sepinggang orang dewasa — menunjukkan bahwa air mencapai ketinggian yang membahayakan bagi penghuni rumah.
Di sejumlah lokasi, longsor membuat tanah dan bebatuan menutup akses jalan, memutus jalur transportasi dan menghambat distribusi bantuan.
Upaya Koordinasi & Peringatan Dini
Pemerintah daerah melalui BPBD menyampaikan bahwa tim tanggap darurat, aparat desa, dan instansi terkait telah dikerahkan untuk menangani bencana — melakukan evakuasi, pemeriksaan lokasi rawan, dan mendata warga terdampak.
Masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap hujan lebat yang bisa menyebabkan banjir dan longsor susulan — terutama di daerah rawan seperti dekat sungai atau tebing. Warga diminta tidak meremehkan potensi bencana dan segera melapor bila ada tanda-tanda pergerakan tanah.
Kondisi Terkini
Per hari ini, 6 Desember 2025, proses evakuasi, pendataan, dan penanganan darurat masih berlangsung. Beberapa wilayah telah mulai proses pembersihan dan pemulihan — namun sebagian besar korban bencana masih menghadapi dampak berat: rumah terendam, akses terputus, dan kebutuhan mendesak seperti air bersih, makanan, dan tempat tinggal sementara.
BPBD bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan, sambil bersiap menghadapi kemungkinan hujan susulan agar warga bisa segera mendapatkan bantuan dan pelayanan.
Bencana di Sukabumi kali ini menunjukkan betapa cepatnya hujan deras berubah menjadi ancaman serius. Banjir dan longsor tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengguncang keamanan dan kehidupan warga. Respons cepat petugas dan kesigapan warga menjadi kunci dalam meminimalkan dampak, namun pemulihan jangka panjang akan butuh koordinasi dan dukungan semua pihak.

