Sumatera, Harianmedia — Usai kabar duka dan kecemasan melanda warga — karena hilangnya kontak sang wali kota di tengah bencana — akhirnya pada Jumat (28/11/2025) malam, kabar melegakan datang: Wali Kota Sibolga ditemukan dalam keadaan selamat. Perjalanan panjang penuh perjuangan dilalui — berjalan kaki selama empat hari melalui jalur longsor dan banjir — untuk kembali ke daerah asal. Berikut kronologi lengkap, kondisi terkini, dan dampaknya terhadap masyarakat di Sibolga dan sekitarnya.
Awal Bencana & Hilangnya Kontak
Pada Senin malam 24 November 2025, wilayah Sibolga dan sebagian kawasan di Tapanuli Tengah diserang hujan lebat yang terus berlangsung hingga Selasa (25/11/2025). Curah hujan ekstrem memicu banjir dan tanah longsor, yang merusak infrastruktur — jalan, jembatan, dan jaringan komunikasi — sehingga banyak daerah menjadi terisolasi.
Pada Selasa siang, Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazri Penarik, bersama sejumlah tim pemantau bencana melakukan kunjungan ke lokasi terdampak, sebagai bagian dari upaya koordinasi dan penanganan darurat.
Namun, sekitar pukul 11.10 WIB hari itu, Syukri sempat mengabarkan lewat pesan bahwa dirinya terjebak longsor di kawasan Sitahuis, Tapanuli Tengah — jalur antara Sibolga dan Tarutung. Akses jalan tertutup, dan sinyal telepon pun hilang. Sejak pesan itu, tidak ada kabar lebih lanjut dari wali kota.
Sejak Selasa sore hingga Kamis (27/11/2025) malam, walikota dinyatakan hilang kontak. Tim dari pemerintahan daerah bersama masyarakat setempat dan partai politik melakukan upaya pelacakan, namun kondisi medan sulit, banyak longsor baru, dan komunikasi yang putus membuat pencarian menemui banyak kendala.
Berita hilangnya wali kota sempat memicu kekhawatiran di kalangan warga — karena banyak korban bencana, rumah rusak, dan situasi darurat yang memerlukan koordinasi cepat. Ketiadaan pemimpin daerah di saat krisis memperburuk kecemasan publik.
Penemuan Kembali
Kabar melegakan tiba pada Jumat siang, 28 November 2025: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala BNPB, Suharyanto, mengumumkan bahwa Wali Kota Sibolga telah ditemukan dalam keadaan selamat.
Menurut pengakuan Akhmad Syukri, sejak terjebak di longsoran ia tidak bisa melanjutkan perjalanan karena akses tertutup dan tidak ada jalur, sehingga ia terpaksa bertahan di lokasi longsor. Setelah tiga hari tanpa kabar, pada hari keempat dia memutuskan untuk berjalan kaki melewati jalur berat, menembus longsoran dan banjir, hingga akhirnya berhasil kembali ke rute yang bisa diakses.
Perjalanan pulang itu berlangsung selama empat hari, melewati rute antara Sibolga dan Tarutung, yang penuh longsoran dan jalur terputus, sebelum akhirnya tiba kembali di Sibolga pada Jumat malam.
Dalam konferensi pers, Suharyanto menyebut bahwa saat dihubungi, walikota “terlihat lelah, namun mukanya segar dan sehat walafiat”. Meski kelelahan fisik jelas terlihat, tidak ada laporan cedera seri
Setelah kabar penemuan ini tersebar, suasana di Sibolga dan Tapanuli Tengah yang sebelumnya tegang kini sedikit mereda. Warga merasa lega karena pemimpinnya kembali dan diharapkan bisa segera memimpin proses pemulihan pasca bencana.
BNPB bersama pemerintah daerah segera meninjau kembali akses jalan. Jalur longsoran yang dilalui wali kota juga akan menjadi perhatian, supaya segera dibuka dan diperbaiki agar distribusi logistik dan bantuan bisa lancar.
Masyarakat terdampak banjir dan longsor mendapat dorongan semangat karena adanya kepastian kepemimpinan: publik berharap bantuan, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur bisa lebih cepat dijalankan. Wali kota diperkirakan akan turun langsung memantau kondisi korban bencana dalam waktu dekat.
Meski demikian, kondisi jalan dan komunikasi masih rapuh di banyak titik. Beberapa akses masih tertutup, dan proses distribusi bantuan belum sepenuhnya merata. Warga di area terpencil masih menunggu.
Kisah Perjuangan & Pelajaran dari Bencana
Kisah Wali Kota Sibolga ini menjadi gambaran dramatis bagaimana bencana alam dapat mengguncang stabilitas pemerintahan dan kehidupan masyarakat, bukan hanya soal materi, tapi juga soal kepemimpinan dan harapan. Perjalanan 4 hari dalam kondisi terisolasi, terjebak di longsoran, dan harus berjalan kaki melalui jalur sulit adalah bukti nyata perjuangan dan keberanian memikul tanggung jawab.
Di sisi lain, peristiwa ini membuka fakta betapa rentannya infrastruktur di wilayah rawan bencana seperti akses jalan, komunikasi, dan respons darurat harus menjadi prioritas halaman depan dalam perencanaan daerah. Selama jalur dan akses logistik putus, masyarakat dan aparat jadi sangat rentan, baik terhadap alam maupun krisis kemanusiaan.
Kembalinya sang wali kota juga menunjukkan pentingnya koordinasi dan dukungan lembaga seperti BNPB, serta kerja sama antar pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan, agar penanganan bencana bisa cepat dan tepat.
Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazri Penarik, sempat hilang kontak sejak Selasa 25 November 2025 karena terjebak longsor dan banjir di kawasan Sitahuis, Tapanuli Tengah.
Setelah empat hari tanpa kabar dan melewati perjalanan berat, pada Jumat 28 November 2025 ia ditemukan dalam keadaan sehat setelah berjalan kaki melewati jalur longsor.
Kondisinya sehat meski kelelahan dan segera kembali ke Sibolga.
Penemuan ini memberi harapan bagi warga terdampak. kepastian kepemimpinan di masa krisis, dan dorongan percepatan pemulihan.
Ke depan, akses jalur dan infrastruktur harus segera diperbaiki agar tanggap darurat dan distribusi bantuan bisa optimal.

