Medan, Harianmedia — Peristiwa amblasnya jalan tol kembali menghebohkan publik, kali ini terjadi di ruas Jalan Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi (MKTT), tepatnya di KM 41 600 B, wilayah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Insiden tersebut ramai diperbincangkan setelah video pendek yang memperlihatkan kondisi jalan yang terputus total beredar luas di media sosial.
Dalam video yang viral tersebut, tampak sejumlah personel kepolisian sedang memeriksa lokasi kerusakan. Bagian jalan yang amblas tampak membentuk celah besar sehingga kendaraan tak dapat melintas sama sekali. Suasana di sekitar jembatan yang terputus itu terlihat dipenuhi petugas yang sedang memastikan keamanan area dan menutup akses bagi pengguna jalan.
Akun yang mengunggah video tersebut memberikan narasi yang menyebutkan bahwa “Jembatan di KM 41 600 B terputus total,” menggambarkan betapa parahnya kerusakan yang terjadi di lokasi tersebut. Narasi itu kini menjadi salah satu rujukan publik dalam memahami skala kerusakan yang menimpa salah satu akses vital di Sumatera Utara tersebut.
Penyebab Amblasnya Jalan Tol
Insiden ini dibenarkan langsung oleh Direktur Utama PT Jasa Marga Kualanamu Tol, Thomas Dwiatmanto. Dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, ia menjelaskan bahwa kejadian ini pertama kali terdeteksi pada Jumat (28/11/2025) sekitar pukul 11.30 WIB.
Thomas menegaskan bahwa penyebab utama amblasnya struktur jalan di lokasi tersebut adalah tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Deli Serdang sejak hari sebelumnya. Ia menyampaikan secara tegas:
“Penyebabnya curah hujan yang tinggi di wilayah Deli Serdang sejak Kamis,”
ujar Thomas dalam keterangan tertulis.
Penjelasan tersebut memperkuat indikasi bahwa curah hujan ekstrem telah memicu gangguan pada struktur tanah di bawah pondasi jembatan, sehingga menyebabkan permukaan jalan tiba-tiba ambles dan menimbulkan kerusakan serius.
Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Jasa Marga bergerak cepat untuk menjaga keselamatan pengguna jalan sekaligus memastikan kelancaran mobilitas masyarakat yang biasa memanfaatkan jalur ini. Thomas menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas langsung diberlakukan setelah pihaknya mengetahui kondisi kerusakan tersebut.
Ia menyampaikan:
“Saat ini telah diberlakukan rekayasa lalu lintas pada titik terdampak. Kendaraan dari arah Tebing Tinggi menuju Medan dialihkan melalui Gerbang Tol Kemiri dan Gerbang Tol Kualanamu,” ucap Thomas.
Pengalihan ini diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan sekaligus mengarahkan arus kendaraan ke jalur yang masih aman dilalui. Sementara untuk kendaraan yang bergerak dari arah Kualanamu menuju Medan, Jasa Marga memutuskan melakukan pengaturan tambahan.
Meski terdapat kerusakan berat di salah satu lajur, Jasa Marga memastikan bahwa ruas tol tersebut belum ditutup sepenuhnya. Untuk kendaraan tertentu, masih ada bagian jalan yang bisa digunakan.
Kerusakan jembatan atau jalan yang amblas bukan hanya soal rekayasa permukaan jalan; insiden seperti ini memerlukan perhatian khusus pada struktur pondasi, kestabilan tanah, hingga sistem drainase. Karena itu, Jasa Marga bersama tim teknis langsung melakukan penanganan darurat di lapangan.
Thomas memastikan bahwa proses investigasi sedang dilakukan secara menyeluruh.
Investigasi ini krusial untuk menilai apakah struktur jembatan yang tersisa masih aman atau diperlukan rekonstruksi total. Biasanya, proses seperti ini melibatkan tinjauan geoteknik, pengecekan pondasi, dan audit kelayakan struktur.
Curah Hujan Ekstrem pada Struktur Jalan Tol
Wilayah Deli Serdang, beberapa hari terakhir, dilaporkan mengalami intensitas hujan yang cukup ekstrem. Kondisi ini berdampak langsung terhadap sejumlah infrastruktur, termasuk jalan nasional, fasilitas umum, hingga beberapa kawasan permukiman.
Pada kasus amblasnya ruas tol MKTT, curah hujan yang tinggi diduga menyebabkan peningkatan debit air pada aliran sungai atau saluran di bawah jembatan, yang kemudian menggerus tanah pendukung struktur. Bila erosi tanah tidak tertangani, struktur atas jembatan bisa kehilangan daya dukung dan amblas seperti yang terjadi di KM 41.
Fenomena seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Jalan tol yang dibangun di atas kontur tanah yang rentan terhadap erosi atau dekat aliran air selalu membutuhkan pemeliharaan drainase yang ketat agar tidak terjadi pengikisan tanah secara tiba-tiba.
Insiden ini berdampak cukup besar terhadap arus transportasi antara Medan, Kualanamu, hingga Tebing Tinggi. Jalan Tol MKTT adalah salah satu jalur utama yang menghubungkan Bandara Kualanamu dengan Kota Medan, sehingga kerusakan di titik ini berpotensi mengganggu mobilitas harian ribuan kendaraan.
Pengalihan lalu lintas yang diberlakukan Jasa Marga membuat sebagian pengendara harus menempuh rute lebih jauh. Selain itu, titik-titik pengalihan seperti di Gerbang Tol Kemiri, Lubuk Pakam, dan Tanjung Morawa diperkirakan mengalami peningkatan volume kendaraan.
Meskipun begitu, langkah cepat Jasa Marga melakukan pengaturan arus dianggap sangat membantu mengurangi potensi kemacetan panjang maupun risiko kecelakaan.
Upaya Pemulihan dan Rencana Jangka Panjang
Selain penanganan darurat, proses pemulihan struktural diprediksi memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, bergantung hasil investigasi teknis. Jika kerusakan berada pada struktur pondasi jembatan atau girder, maka perbaikan dapat berlangsung lebih lama.
Pemantauan BMKG terkait kondisi cuaca juga menjadi faktor penting. Apabila hujan ekstrem masih terus terjadi, proses perbaikan di lapangan membutuhkan penyesuaian ekstra agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi pekerja maupun pengguna jalan.
Ke depan, kemungkinan akan ada rekomendasi penguatan struktur pada titik tersebut serta evaluasi drainase di seluruh ruas tol MKTT untuk mencegah kejadian serupa.

