Harianmedia.com — Hari ini, 20 November 2025, dunia memperingati Hari Anak Sedunia (World Children’s Day), sebuah momen penting untuk mengangkat kembali kesadaran akan hak-hak anak. Tema yang diusung tahun ini adalah “My Day, My Rights” atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi “Harianku, Hakku”.
Tema “My Day, My Rights” menekankan betapa pentingnya mendengarkan suara anak setiap harinya—mulai dari hal-hal kecil di keseharian mereka hingga impian besar mereka di masa depan. UNICEF Indonesia menegaskan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang setara: hak untuk dilindungi, belajar, berpartisipasi, dan didengarkan.
Secara historis, tanggal 20 November dipilih karena dua momen penting: pada 20 November 1959, Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak Anak, dan pada tanggal yang sama di tahun 1989 disahkan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child / CRC). Konvensi ini menjadi landasan hukum internasional bagi hak anak di banyak negara.
Tahun 2025 jadi momentum bagi UNICEF dan pemerintah untuk memperkuat komitmen dalam pemenuhan hak anak di Indonesia. Menurut pernyataan resmi UNICEF, kemajuan di Indonesia telah terlihat dalam dekade terakhir: dari peningkatan layanan kesehatan, gizi, hingga pendidikan. Namun, meski ada kemajuan, tantangan pemenuhan hak anak tetap ada, termasuk kesenjangan akses, perlindungan anak, dan partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam peringatan tersebut, Komnas Perlindungan Anak dan berbagai lembaga masyarakat turut menyoroti perlunya ruang dialog dan peran anak sebagai agen perubahan. Anak-anak tidak hanya sebagai objek perlindungan, tetapi juga sebagai subjek yang suaranya harus didengar dalam membangun masa depan mereka sendiri.
Beberapa ucapan inspiratif turut beredar di media sosial hari ini. Dari pihak pemerintah, orang tua, hingga tokoh masyarakat, banyak yang mengajak agar anak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri, bermimpi, dan berbicara tentang masa depan mereka tanpa takut diabaikan.
UNICEF Indonesia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat—orang tua, pendidik, pembuat kebijakan—untuk menjadikan tema “My Day, My Rights” bukan sekadar slogan tahunan, tetapi prinsip yang diterapkan dalam kebijakan dan kehidupan sehari-hari. Komitmen ini sangat penting agar pemenuhan hak anak dapat terjadi secara berkelanjutan dan inklusif, tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang, kondisi ekonomi, atau wilayah tinggal.
Sebagai bagian dari perayaan, sejumlah komunitas anak di Indonesia juga menggelar kegiatan lokal. Ada diskusi anak tentang hak-hak dasar mereka, pameran karya anak, serta kampanye media sosial yang mengajak semua orang untuk mendengarkan apa yang anak inginkan dan butuhkan. Informasi ini mencerminkan semangat tema “My Day, My Rights” sebagai panggilan aksi.
Hari Anak Sedunia 2025 menjadi pengingat kuat: anak bukan hanya masa depan, tetapi bagian aktif dari sekarang. Suara mereka harus dihargai dan ditempatkan sebagai dasar dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan masa depan mereka. Tidak hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh pemerintah dan masyarakat luas.
Dengan peringatan ini, diharapkan ada langkah nyata: kebijakan lebih ramah anak, program pendidikan dan kesehatan yang lebih inklusif, serta komunitas yang benar-benar menghormati hak-hak setiap anak sebagai manusia penuh hak.

