WAJAH PERGERAKAN MAHASISWA SAAT INI : KRITIS, MATERIALISTIS, ATAU ANARKIS?

Penulis : Mochamad Naufal Arul A.
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang Serang
Editor : Ahmad Zidane

Jember, 20 September 2025 – Kebijakan publik yang dibuat aktor politik seringkali terkesan memihak elit kapitalisme dan borjuasi yang justru menjadi percikan api protes dari masyarakat. Salah satu protes dan pergolakan yang hadir dalam mengkritisi kebijakan pemerintah muncul dari mahasiswa dengan bekal idealisme dan intelektualitas yang dimiliki. Mahasiswa berperan aktif dalam mengontrol pemangku kebijakan serta melakukan pengawasan terhadap regulasi yang dibuat para elit politik. Sejarah juga mencatat bahwa mahasiswa merupakan katalisator gerakan perlawanan rakyat dimulai dari masa orde lama dan pasca reformasi hingga hari ini. Gerakan perlawanan rakyat dan mahasiswa juga menjadi momentum yang diharapkan bisa menjadi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Pergerakan perlawanan rakyat dan mahasiswa bukan hanya sebatas catatan arsip sejarah yang hanya tersentuh debu. Dalam setiap pergerakan yang hadir, mahasiswa dan rakyat tentu saja menjadi kepala dari setiap diskusi strategis di sudut-sudut kampus dan warung-warung kopi. Mengubah lokasi diskusi menjadi wadah akademik dalam membentuk ideologi yang ideal sebagai pemuas dahaga terhadap idealisme yang diagung-agungkan kaum muda. Terbit dari tempat tak terduga, narasi-narasi perlawanan, keberanian berpikir, aturan bertindak, dan kolektif dalam bersuara menjadi kawah pergolakan dari semangat api perjuangan agen-agen perubahan menuju masa depan yang lebih demokratis dan humanis.

Tetapi hari ini, gerakan perlawanan yang diinisiasi mahasiswa lebih sering mengarah kepada gerakan mahasiswa yang eksklusif. Mahasiswa pada hari ini terkotak-kotakan dengan ideal versi diri mereka masing-masing. Pergerakan yang hadir justru dapat dikatakan tidak mewakili kepentingan rakyat secara utuh, meskipun narasi tersebut hadir dalam setiap lembar tuntutan aspirasi. Rasa-rasanya sah saja ketika mengakui bahwa pergerakan mahasiswa sekarang terkesan melempem dan kebanyakan memiliki tujuan yang politis dan pragmatis. Alih-alih menyuarakan kepentingan rakyat, pergerakan mahasiswa yang kita saksikan lebih condong kepada pemuasan egosentris dan validasi dari setiap masing-masing organ. Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena kebenaran yang dibiarkan merupakan ketidakadilan yang disuarakan dalam kesunyian.

Jika kita berbicara pergerakan mahasiswa sebelum reformasi, mahasiswa memainkan peran sebagai kaum intelektual yang berpartisipasi aktif mengawasi pemerintah dalam mengatur kebijakan publik. Mereka tidak terkotak-kotakan bendera organisasi secara terpisah. Pergerakan mahasiswa di era itu berorientasi kepada kepentingan rakyat Indonesia agar bisa menciptakan masyarakat adil makmur yang diinginkan. Setelahnya, saat masa reformasi, dimana rezim otoritarian Orba digulingkan oleh gerakan perlawanan mahasiswa dan rakyat, tentu menjadi catatan sejarah bahwa gerakan kemahasiswaan yang dimaksud tidak mengedepankan egosentris untuk kepentingan eksistensial suatu organ mahasiswa tertentu. Reformasi juga menjadi bukti sejarah bahwa mahasiswa bisa menjadi lokomotif dalam mewujudkan perubahan negara yang lebih demokratis dan humanis.

Namun apakah hal yang sama masih relevan setelah 27 tahun reformasi? Tentu jawaban dari pertanyaan ini tidak bisa menggeneralisasi keadaan yang saat ini terjadi. Dalam beberapa situasi, hal tersebut masih ada dan relevan. Masih banyak mahasiswa cerdas meninggalkan apatismenya untuk berjuang di barisan perlawanan rakyat. Namun, disisi lain tidak sedikit pula organisasi mahasiswa yang justru hanya mengedepankan eksistensial tanpa mengerti secara mutlak arti dari “untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur”. Pergerakan mahasiswa era sekarang kebanyakan menghilangkan moralitas dari diri mereka sendiri. Mereka menyuarakan tentang bagaimana para elit politik amoral dalam membuat kebijakan. Namun, mereka enggan refleksi terhadap diri mereka sendiri bagaimana tindakan amoral mereka saat menyuarakan aspirasi yang tidak bisa diterima menjadi tindakan yang benar.

Lantas apa yang gagal dipahami dari gerakan mahasiswa saat ini setelah banyaknya arsip sejarah yang bisa mereka baca sebagai referensi untuk bersikap? Begitu banyak momentum berlalu dari banyaknya akses sejarah yang bisa pergi begitu saja. Di balik ingatan sejarah, berbisik dalam sunyi bahwa pergerakan mahasiswa saat ini dipertanyakan relevansi dalam artian membela kepentingan rakyat. Lalu apa yang menjadi catatan dari banyaknya perbedaan pergerakan mahasiswa dari waktu ke waktu? Catatan itu berkaitan tentang bagaimana mahasiswa yang dikatakan membela kepentingan rakyat berubah orientasinya kepada hal yang bersifat materil dan politik. Pergerakan mahasiswa saat ini diredam dengan proposal kerjasama kegiatan yang mana mahasiswa bisa mengantongi jutaan rupiah untuk kepentingan organ masing-masing. Berangkat dari hal tersebut, orientasi mahasiswa yang digaungkan membela kepentingan rakyat berubah kepada hal-hal yang bersifat materil dan keuntungan sepihak.

Tentu itu menjadi kritik tajam dari banyaknya pergerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat, yang justru hanya berorientasi pada profit. Lalu, apa bedanya organisasi mahasiswa yang katanya ideal itu dengan elit kapitalisme? Bukankan orientasi mereka sama-sama mengedepankan keuntungan sebanyak-banyaknya? Lalu, apa yang menjadi barisan pergerakan pembelaan rakyat, ketika profit yang didapatkan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok di lingkaran organisasinya saja? Rakyat mana yang dibela saat pergerakan yang digerakan tersebut justru hanya untuk ajang eksistensial dan materialisme? Tentu tidak ada rakyat yang dibela. Mahasiswa yang demikian hanya berorientasi terhadap perut mereka sendiri, botol alkohol yang terisi, puntung rokok dengan cukai resmi, dan lembaran produk kapitalisme yang digenggam di dompet mereka sendiri. Ini adalah tindakan amoral yang mencederai pergerakan mahasiswa secara absolut. Perlawanan mahasiswa dalam mengedepankan isu kerakyatan yang suci ternodai oleh mahasiswa yang berlagak aktivis padahal aktif di barisan borjuis.

Selain daripada orientasi yang dipaparkan di atas, pergerakan mahasiswa juga dinodai oleh masa aksi yang anarkis. Dalam setiap gerakan perjuangan, tentu anarkisme juga diperlukan dalam beberapa situasi. Karl Marx pun sepakat jika revolusi berdarah perlu untuk mewujudkan perubahan. Namun, yang menjadi kritik dari hal tersebut adalah tentang bagaimana barisan perlawanan pergerakan rakyat oleh mahasiswa justru menjadi ajang untuk memuaskan hasrat melukai orang lain atas dasar kebencian terhadap suatu kelompok dan lembaga. Apakah hal demikian dapat dibenarkan di tengah aksi yang berlangsung? Tentu kembali lagi, jawaban dari pertanyaan tersebut tidak dapat menggeneralisasi situasi yang terjadi. Namun dari banyaknya aksi mahasiswa yang belakangan hadir, cukup untuk menjadi jawaban bahwa pergerakan mahasiswa hanya sebatas perlawanan tanpa dasar intelektual yang terasah. Mahasiswa yang mengedepankan egosentris dalam memuaskan hasrat emosi mereka, dengan seringkali menggunakan kekerasan terhadap barisan yang mereka anggap pro terhadap rezim. Seringnya, mereka akan dibentrokan oleh pihak aparat kepolisian. Meskipun bisa kita jumpai bahwa aksi represif aparat terhadap masa aksi dan mahasiswa tidak dapat dibenarkan, tetapi sifat anarkisme mahasiswa saat aksi juga tidak dapat divalidasi benar hanya karena mereka sedang mengaspirasikan pendapat mereka melalui aksi.Berangkat dari kejadian tersebut, anarkisme saat melakukan aksi menjadi bumerang juga terhadap mahasiswa yang benar-benar berjuang di barisan rakyat. Sebagai sesama elemen yang berjuang mengatasnamakan rakyat, mahasiswa yang masih berpedoman terhadap moralitas dan idealisme yang sesuai sering menjadi korban salah tangkap aparat karena dianggap sebagai anarko daripada masa aksi. Tindakan anarkis mahasiswa saat masa aksi juga menjadi catatan kritis, dimana perlawanan dalam pergerakan yang dimaksud adalah perlawanan terhadap ketidakadilan dari tirani dan rezim yang berkuasa dalam menerapkan kebijakan yang tidak memihak rakyat. Bukan justru menjadi validasi dari tindakan anarkis dan berbuat sesuka hati dengan melukai aparat yang bertugas mengamankan lokasi aksi.

Sekali lagi, segala bentuk represif aparat terhadap masa aksi tidak dapat dibenarkan dan secara tegas harus dituntaskan dengan dalih apapun. Namun, anarkisme mahasiswa yang menjadi anarko biang kerok kerusuhan aksi terutama dalam penyerangan terhadap aparat juga perlu untuk dihentikan. Hal-hal tersebut akhirnya berimplikasi pada banyak sektor yang membuat gerakan kerakyatan yang dilakukan mahasiswa saat ini menjadi suatu hal negatif dari perspektif masyarakat. Sebisa mungkin tujuan daripada aksi adalah audiensi dengan pihak elit politik agar maksud dan aspirasi dari masa aksi baik mahasiswa maupun rakyat dapat tersampaikan dan diperhatikan.

Kembali menjadi catatan kritis, anarkisme mahasiswa harus segera dihentikan dalam segala elemen pergerakan mahasiswa manapun. Karena kekerasan tidak dapat dibenarkan siapapun pelakunya. Aparat kepolisian juga merupakan seorang manusia, warga negara, sama seperti kita. Setara dalam perjuangan serta sama-sama dalam kesetaraan hak asasi manusia. Tidak bisa sedikitpun tindakan anarkis terutama terhadap aparat dapat dibenarkan serta tindakan represif aparat terhadap masa aksi juga mutlak harus dihentikan. Jika kekerasan di negara demokrasi masih menjadi hal lumrah dan sering dilakukan, lantas apakah kebebasan dan kesetaraan serta rasa aman yang dimaksud tersebut bisa terealisasi? Tentu saja kecil kemungkinannya.

Lalu dari apa yang sudah dipaparkan, bagaimana seharusnya agar pergerakan mahasiswa dengan rakyat dapat efektif? Sebenarnya, jika kita hari ini menganggap bahwa gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral memang akan sangat sulit mengidentifikasi efektifitasnya. Apakah yang demikian bisa dibilang berhasil atau tidak itu kembali kepada situasi yang ada pada realita dan kenyataan yang terjadi. Meskipun suatu negara menganut sistem yang sama yakni demokrasi, tapi setiap negara akan memiliki kondisi yang berbeda. Baik dari kualitas pejabat publik, masyarakat, dan aparatnya. Hal ini karena setiap negara memiliki roda sistem yang berbeda dalam menjalankan pemerintahan dan mempertahankan kekuasaan.

Sudah saatnya dimulai dari hari ini pergerakan mahasiswa harus merevolusi dirinya sendiri. Mahasiswa harus segera berbenah terutama bagi mereka yang berada dalam gerakan barisan pro rakyat yang aktif dalam mengawal kebijakan publik yang dirancang pemerintah. Tidak salah ketika mahasiswa masuk organisasi, karena itu merupakan wadah untuk mengembangkan kemampuan secara personal. Namun, hal yang harus dan perlu dihilangkan adalah perasaan eksklusifitas mahasiswa atas organ yang diemban. Bagaimanapun, ketika sudah komitmen berada dalam barisan rakyat, mahasiswa dari organisasi dan aliansi apapun perlu untuk melucuti eksklusifitasnya dan berdiri sama rata dengan rakyat yang lain. Bentuk pembelaan terhadap mereka adalah dengan berdiri sama rata bersama, tidak merasa berbeda karena almamater dan organ yang diikuti.

Selain itu, pergerakan mahasiswa harus konsisten dalam membela kepentingan rakyat tanpa terkecuali. Kepentingan rakyat adalah kepentingan nomor wahid yang harus direalisasikan apapun resikonya. Melakukan revolusi terhadap organisasi yang politis yang berorientasi pada materil dan kedudukan politik semata. Organisasi dan aliansi mahasiswa juga harus mampu menciptakan ekonomi kreatif dan mandiri sendiri, apalagi di era informasi dan teknologi yang semakin berkembang. Agar organisasi tidak mudah disetir oleh kepentingan apapun dan bisa konsisten dalam barisan perlawanan terhadap rakyat yang tertindas.

Sebagai agent of change yang mengedepankan intelektualitas dan berdiri pada idealismenya, mahasiswa dalam pergerakan kerakyatannya juga harus mengedepankan prinsip moral yang humanis terhadap sesama manusia, baik kepada masa aksi yang lain maupun aparat. Kekerasan bukanlah jalan keluar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Sebagai mahasiswa yang berdiri pada prinsip pendidikan baik moral dan intelektual haruslah mengedepankan upaya yang lebih komprehensif. Selain dari mahasiswa, aparat juga harus bisa menjadi agen agar pengawalan terhadap masa aksi bisa berjalan dengan semestinya. Menghentikan kekerasan dengan menghentikan anarkisme anarko dan represifitas aparat adalah jalan keluar menuju perubahan yang lebih baik.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *