Insiden Helikopter Super Puma di Sungai Barito, Pencarian Satu Kru Terus Dilakukan

Sumber Foto : Suara

Kalimantan, Harianmedia — Insiden kecelakaan helikopter Super Puma yang digunakan untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 8 November 2026. Dalam peristiwa tersebut, helikopter dengan nomor registrasi VH-HGM dilaporkan jatuh ketika menjalankan misi pemadaman melalui udara. Dari tiga orang awak yang berada di dalam helikopter, dua orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan satu orang lainnya masih dalam pencarian tim penyelamat.

Helikopter yang mengalami kecelakaan tersebut merupakan jenis Eurocopter EC225LP Super Puma atau H225. Armada itu diketahui merupakan milik perusahaan swasta yang disewa oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendukung kegiatan penanggulangan karhutla melalui operasi udara. Penggunaan helikopter tersebut menjadi bagian dari upaya pemadaman kebakaran dengan metode water bombing, yaitu menjatuhkan air dari udara menuju kawasan yang mengalami kebakaran.

Lokasi kejadian berada di wilayah Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah helikopter yang sedang menjalankan tugas pemadaman mengalami kecelakaan dan jatuh ke perairan sungai. Informasi awal mengenai kejadian diterima oleh pihak terkait, kemudian dilakukan penanganan terhadap awak helikopter serta pengamanan armada yang mengalami kecelakaan.

Dalam pelaksanaan operasi water bombing, helikopter menggunakan perangkat bernama bambi bucket. Peralatan tersebut merupakan wadah khusus yang digantung pada bagian bawah helikopter dan digunakan untuk mengambil air dari sungai atau sumber air lainnya. Air yang telah dibawa kemudian dijatuhkan ke titik kebakaran sebagai bagian dari upaya mengendalikan penyebaran api.

Berdasarkan informasi awal yang disampaikan setelah kejadian, ketiga awak helikopter sempat dilaporkan berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, setelah dilakukan pembaruan informasi melalui koordinasi dengan petugas di lapangan, BNPB menyampaikan bahwa dari tiga orang awak yang berada di dalam helikopter, baru dua orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.

Kedua awak tersebut merupakan pilot yang telah mendapatkan penanganan medis setelah berhasil diselamatkan. Sementara itu, satu awak lainnya bernama Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO), hingga pembaruan informasi pada Minggu, 8 November 2026, masih dinyatakan hilang dan sedang dalam proses pencarian.

Perbedaan informasi antara laporan awal dan pembaruan tersebut menjadi perhatian dalam perkembangan penanganan kecelakaan. BNPB kemudian menegaskan bahwa pencarian terhadap satu awak yang belum ditemukan menjadi prioritas utama. Upaya penyelamatan dilakukan dengan melibatkan sejumlah unsur yang memiliki kemampuan dalam operasi pencarian dan pertolongan di wilayah perairan.

Kantor Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas Banjarmasin telah mengerahkan tim penyelamat untuk menuju lokasi kejadian. Berdasarkan pembaruan BNPB, sebanyak 18 personel diberangkatkan pada pukul 13.10 WITA untuk mendukung proses pencarian. Tim tersebut membawa sejumlah perlengkapan yang disiapkan untuk membantu kegiatan penyisiran dan pemeriksaan di sekitar lokasi jatuhnya helikopter.

Peralatan yang dibawa meliputi Rigid Inflatable Boat (RIB), peralatan selam, serta perangkat pendeteksi bawah air yang dikenal dengan nama Aqua Eye. RIB merupakan perahu khusus yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan penyelamatan di perairan, sedangkan perlengkapan selam dan pendeteksi bawah air membantu petugas melakukan pemeriksaan pada area yang sulit dijangkau melalui permukaan sungai.

Lokasi kecelakaan dilaporkan berjarak sekitar 141 kilometer dari Kantor SAR Banjarmasin atau sekitar 71 mil laut dari Dermaga SAR Basirih. Jarak tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mobilisasi personel dan perlengkapan menuju lokasi pencarian. Operasi penyelamatan juga melibatkan unsur TNI Angkatan Udara, kepolisian, Babinsa, serta masyarakat setempat yang turut mendukung penanganan kejadian.

Selain pencarian terhadap Yayan Supyansuri, penanganan juga diarahkan pada pemulihan kondisi kesehatan kedua pilot yang berhasil ditemukan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan kondisi mereka setelah mengalami kecelakaan. Di sisi lain, pengamanan bangkai helikopter di tepian sungai juga menjadi bagian dari langkah penanganan yang dilakukan oleh petugas terkait.

Mengenai penyebab kecelakaan, hingga pembaruan informasi yang disampaikan pada Minggu, 8 November 2026, belum terdapat kesimpulan resmi yang memastikan faktor penyebab jatuhnya helikopter tersebut. BNPB menyatakan akan memfasilitasi proses investigasi oleh pihak berwenang untuk mengetahui secara lebih jelas rangkaian kejadian yang menyebabkan armada tersebut mengalami kecelakaan.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga telah menerima laporan sementara mengenai insiden tersebut. Pihak terkait melakukan koordinasi dengan operator helikopter, BNPB, serta instansi lainnya untuk mendukung penanganan kejadian dan memperoleh informasi teknis yang diperlukan. Pemeriksaan awal dari aspek kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat udara juga disiapkan sesuai kewenangan masing-masing instansi.

Evaluasi keselamatan operasi udara menjadi salah satu langkah yang akan dilakukan setelah kejadian. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air menggunakan bambi bucket, kelaikan awak pesawat, kondisi cuaca, serta karakteristik wilayah tempat operasi berlangsung. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan kecelakaan.

Di tengah proses penanganan insiden, BNPB memastikan kegiatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tetap dilanjutkan. Upaya pemadaman akan diperkuat melalui operasi darat serta evaluasi terhadap penggunaan armada udara agar pelaksanaan kegiatan berikutnya tetap memperhatikan aspek keselamatan.

Hingga pembaruan resmi pada Minggu, 8 November 2026, perhatian utama masih tertuju pada pencarian satu awak helikopter yang belum ditemukan. Sementara itu, dua pilot telah berhasil diselamatkan dan mendapatkan penanganan medis. Perkembangan selanjutnya masih menunggu hasil operasi pencarian serta pemeriksaan resmi untuk mengetahui penyebab kecelakaan helikopter Super Puma VH-HGM di Sungai Barito.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *