BPBD Kebumen Pasang 500 Geobag untuk Perkuat Tanggul Sungai Luk Ulo

Kebumen, Harianmedia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen mengoordinasikan penguatan tanggul Sungai Luk Ulo di Desa Kedungwaru, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi longsor dan erosi akibat derasnya arus sungai yang berpotensi mengganggu kawasan permukiman warga.

Sebanyak 500 geobag berisi pasir telah dipasang untuk membantu memperkuat tanggul. Meski demikian, jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan penanganan tanggul sepanjang 350 meter. Penambahan material masih diperlukan agar penguatan dapat dilanjutkan pada bagian tanggul yang membutuhkan penanganan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kebumen, Bagus Priyanto, menjelaskan bahwa pemasangan geobag dilakukan secara gotong royong. Kegiatan mitigasi struktur kebencanaan tersebut melibatkan warga, aparat kewilayahan, serta puluhan relawan dari berbagai kelompok relawan di Kebumen.

Pemasangan geobag menjadi bagian dari upaya memperkuat tanggul yang sebelumnya telah ditinggikan dan diperkuat oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak. Penanganan lanjutan diperlukan untuk membantu mengurangi risiko pengikisan tebing sungai akibat aliran air.

Dari total 500 geobag yang telah terpasang, sebanyak 450 lembar berasal dari BBWS Serayu-Opak. Sementara itu, 50 lembar lainnya disediakan oleh BPBD Kebumen. Seluruh material tersebut digunakan untuk mendukung penguatan tanggul di wilayah Desa Kedungwaru.

Bagus menyampaikan bahwa pekerjaan di lokasi tersebut masih membutuhkan tambahan geobag. Selain itu, pemasangan kayu kelapa atau glugu dan bambu juga diperlukan sebagai bagian dari penanganan tanggul sepanjang 350 meter. Material tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat tebing sungai dan mengurangi risiko longsor maupun erosi.

Kebutuhan penanganan tanggul menjadi perhatian karena aliran Sungai Luk Ulo dilaporkan telah berdampak pada rumah warga di sekitar lokasi. Berdasarkan informasi yang disampaikan BPBD Kebumen, enam rumah mengalami kerusakan akibat aliran sungai tersebut.

Selain kerusakan rumah, sebanyak 10 keluarga telah direlokasi karena tempat tinggal mereka berada di kawasan yang tergenang air saat musim hujan. Relokasi tersebut dilakukan untuk menghindari dampak genangan yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan warga ketika debit sungai meningkat.

Camat Karangsambung, Siti Nuriatun Fauziah, menjelaskan bahwa aliran sungai yang masuk ke kawasan permukiman berpotensi membahayakan rumah warga. Oleh karena itu, masyarakat setempat telah melakukan kerja bakti selama beberapa minggu untuk mengisi geobag dengan pasir dan memperkuat tebing sungai.

Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam kegiatan penanganan tersebut. Warga bergotong royong bersama BPBD, aparat kewilayahan, dan relawan untuk menyiapkan serta memasang geobag di lokasi yang membutuhkan penguatan.

Upaya ini dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko dampak aliran sungai, terutama ketika memasuki musim hujan. Namun, pekerjaan penguatan tanggul masih perlu dilanjutkan karena kebutuhan material untuk menangani seluruh panjang tanggul belum terpenuhi.

Selain penanganan fisik di sekitar sungai, kondisi daerah aliran sungai (DAS) Luk Ulo juga menjadi perhatian. Peneliti Ahli Utama Bidang Geologi Heritage Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Chusni Anshori, menjelaskan bahwa Sungai Luk Ulo merupakan sungai tua yang memiliki kelokan atau meander di bagian hulu.

Menurut Chusni, karakteristik sungai dengan kelokan tersebut berpotensi menyebabkan perubahan arah arus, terutama pada wilayah yang lebih rendah. Kondisi aliran sungai dan bentuk wilayah di sekitarnya menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami risiko pengikisan tebing.

Chusni juga menyoroti kondisi lahan di bagian hulu DAS Luk Ulo. Pemanfaatan lahan yang tidak tepat, termasuk kegiatan penambangan bahan galian, disebut sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kerusakan kawasan hulu.

Ia menjelaskan bahwa DAS yang terjaga dengan baik cenderung memiliki perbedaan volume air musim hujan dan musim kemarau yang tidak terlalu mencolok. Sebaliknya, kondisi DAS Luk Ulo saat ini menunjukkan perbedaan debit air yang cukup besar antara kedua musim tersebut. Volume air meningkat ketika musim hujan, sedangkan debitnya menyusut drastis pada musim kemarau.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan Sungai Luk Ulo tidak hanya berkaitan dengan penguatan tanggul di sekitar permukiman. Perhatian terhadap kondisi lingkungan di bagian hulu DAS juga diperlukan agar persoalan sungai dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Pemasangan 500 geobag di Desa Kedungwaru menjadi salah satu langkah mitigasi yang sedang dilakukan. Dengan masih adanya kebutuhan tambahan geobag, kayu kelapa, dan bambu, pekerjaan penguatan tanggul sepanjang 350 meter masih memerlukan penanganan lanjutan untuk membantu melindungi kawasan permukiman dari risiko longsor dan erosi akibat aliran Sungai Luk Ulo.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *