Sidoarjo, Harianmedia — Sebuah perahu yang mengangkut perangkat sound horeg dilaporkan tenggelam di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, saat digunakan dalam rangka persiapan tradisi Nyadran. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, dan sempat menarik perhatian warga karena melibatkan perangkat sound system berukuran besar.
Insiden ini terjadi pada Sabtu, 7 Februari 2026, sekitar pukul 16.00 WIB. Perahu tersebut digunakan untuk mengangkut sound system menuju lokasi kegiatan Nyadran yang rencananya akan dilaksanakan keesokan harinya. Selain membawa peralatan sound, perahu juga dinaiki sejumlah orang.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber, perahu mengalami kemiringan sebelum akhirnya terguling dan tenggelam di sungai. Kondisi tersebut diduga dipicu oleh beban muatan yang berlebihan, terutama dari perangkat sound horeg yang memiliki bobot sangat besar.
Sound horeg dikenal sebagai sound system berdaya tinggi dengan ukuran besar dan berat yang signifikan. Dalam peristiwa ini, berat perangkat sound yang diangkut diperkirakan mencapai sekitar satu ton. Muatan tersebut membuat perahu kesulitan menjaga keseimbangan saat berada di tengah aliran sungai.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi kejadian sempat menyaksikan perahu mulai oleng. Beberapa orang yang berada di atas perahu berusaha menyelamatkan diri ketika perahu mulai miring. Tidak lama kemudian, perahu tersebut terguling dan seluruh muatannya masuk ke dalam sungai.
Beruntung, dalam peristiwa ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Orang-orang yang berada di atas perahu berhasil menyelamatkan diri dan dievakuasi ke tepian sungai. Namun, perangkat sound horeg yang dibawa mengalami kerusakan akibat terendam air.
Peristiwa ini sempat terekam dalam video dan beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat perahu bermuatan sound system besar perlahan kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya tenggelam. Video itu kemudian menjadi perhatian publik dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.
Tradisi Nyadran sendiri merupakan kegiatan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan doa bersama. Kegiatan ini umumnya dilaksanakan menjelang bulan Ramadan dan melibatkan berbagai prosesi adat, termasuk kegiatan bersama di lingkungan desa.
Dalam persiapan Nyadran, sebagian masyarakat kerap menggunakan sound system untuk mendukung jalannya acara. Namun, insiden di Balongdowo ini menjadi pengingat akan pentingnya memperhatikan faktor keselamatan, terutama ketika menggunakan sarana transportasi air untuk mengangkut muatan berat.
Hingga saat ini, tidak ada laporan lanjutan mengenai dampak lingkungan akibat tenggelamnya perahu tersebut. Warga bersama pihak terkait disebut telah berupaya melakukan penanganan terhadap peralatan yang tenggelam agar tidak mengganggu aktivitas di sungai.
Pihak berwenang setempat juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan perahu, khususnya saat membawa muatan besar dan melibatkan banyak orang. Kapasitas perahu dan keselamatan penumpang menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Insiden ini menjadi pelajaran bagi masyarakat agar pelaksanaan kegiatan budaya tetap mengutamakan keselamatan tanpa mengurangi nilai tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Persiapan acara diharapkan dapat dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang, terutama terkait penggunaan peralatan berat.
Dengan tidak adanya korban jiwa, peristiwa ini dapat diselesaikan tanpa menimbulkan dampak lebih luas. Meski demikian, kejadian perahu tenggelam saat persiapan Nyadran di Sidoarjo ini tetap menjadi perhatian publik dan bahan evaluasi ke depan.

