Tegal, Harianmedia — Akses jalan Clirit–Kalibakung yang menghubungkan wilayah Kabupaten Tegal dengan kawasan wisata Guci kembali mengalami amblas setelah diguyur hujan deras pada Selasa, 10 Februari 2026. Peristiwa ini terjadi setelah hujan turun sejak sekitar pukul 15.00 WIB dan berlangsung hingga malam hari, menyebabkan pergerakan tanah di sejumlah titik badan jalan. Sekitar pukul 20.30 WIB, retakan mulai terlihat dan permukaan jalan mengalami penurunan secara bertahap.
Ruas jalan yang terdampak berada di jalur utama penghubung Clirit menuju Kalibakung dan akses lanjutan ke objek wisata Guci. Jalan tersebut selama ini menjadi jalur penting bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang hendak menuju kawasan pemandian air panas Guci. Amblasnya jalan kembali terjadi di beberapa titik yang sebelumnya juga pernah mengalami pergerakan tanah.
Berdasarkan laporan yang dihimpun pada Rabu, 11 Februari 2026, kedalaman amblas di sejumlah titik mencapai sekitar 30 hingga 50 sentimeter. Permukaan aspal tampak retak memanjang mengikuti kontur tanah yang bergerak. Kondisi tersebut membuat kendaraan harus melambat saat melintas, terutama kendaraan roda empat dan kendaraan dengan muatan berat.
Hujan dengan intensitas ringan yang meningkat menjadi deras sejak Selasa sore disebut menjadi pemicu utama terjadinya pergerakan tanah di lokasi tersebut. Struktur tanah di kawasan itu diketahui memiliki kontur perbukitan dan cukup labil saat curah hujan tinggi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah diduga mempercepat pergeseran lapisan tanah di bawah badan jalan.
Beberapa warga di sekitar lokasi menyebutkan bahwa retakan awal terlihat pada malam hari sebelum akhirnya amblesan semakin jelas pada pagi harinya. Kondisi ini membuat pengguna jalan harus lebih berhati-hati karena permukaan jalan tidak lagi rata. Sejumlah pengendara bahkan memilih memperlambat laju kendaraan untuk menghindari risiko tergelincir atau kehilangan kendali.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada satu titik. Amblesan dilaporkan muncul di beberapa bagian ruas jalan Clirit–Kalibakung, termasuk di area yang menjadi tanjakan menuju arah Guci. Retakan aspal terlihat memanjang dan sebagian bahu jalan juga mengalami penurunan. Meski demikian, hingga Rabu siang, jalur tersebut masih dapat dilalui kendaraan dengan kewaspadaan tinggi.
Akses menuju kawasan wisata Guci menjadi perhatian karena jalur ini merupakan salah satu rute utama wisatawan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Dengan kondisi jalan yang mengalami penurunan, arus kendaraan terpantau melambat. Pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kecepatan saat melintas di titik-titik yang mengalami kerusakan.
Peristiwa amblas ini bukan yang pertama kali terjadi di ruas jalan tersebut. Sebelumnya, jalur Clirit–Kalibakung juga pernah mengalami kerusakan serupa akibat faktor cuaca dan kondisi tanah yang labil. Siklus ambles kembali terjadi setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa jam.
Secara visual, permukaan aspal yang turun membentuk cekungan cukup dalam sehingga berpotensi membahayakan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Retakan yang terbentuk mengikuti garis memanjang dan terlihat jelas membelah permukaan jalan. Sebagian bagian jalan tampak tidak rata dan mengalami pergeseran.
Hingga Rabu, 11 Februari 2026, belum dilaporkan adanya korban akibat kejadian ini. Namun, kondisi jalan yang rusak dinilai berisiko apabila tidak segera ditangani. Pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor, diminta untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan kondisi permukaan jalan sebelum melintas.
Warga sekitar menyampaikan bahwa intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir memang cukup tinggi. Air hujan yang terus mengguyur membuat tanah di sekitar jalan menjadi jenuh air dan mudah bergerak. Situasi ini memperparah kondisi badan jalan yang berada di atas struktur tanah yang rentan.
Aktivitas kendaraan di jalur tersebut tetap berjalan meski dengan kecepatan terbatas. Beberapa pengendara tampak berhenti sejenak untuk memastikan kondisi aman sebelum melewati titik amblas. Pada malam hari, risiko dinilai lebih tinggi karena visibilitas berkurang dan retakan sulit terlihat jelas tanpa pencahayaan memadai.
Ruas Clirit–Kalibakung merupakan jalur strategis penghubung antarwilayah di Kabupaten Tegal bagian selatan. Selain sebagai akses wisata, jalur ini juga digunakan masyarakat untuk aktivitas harian seperti bekerja dan distribusi barang. Kerusakan jalan berdampak langsung terhadap mobilitas warga sekitar.
Fenomena pergerakan tanah di kawasan perbukitan saat musim hujan memang kerap terjadi, terutama pada daerah dengan struktur tanah yang mudah tergerus air. Kondisi drainase yang kurang optimal juga dapat mempercepat genangan air di sekitar badan jalan, sehingga memperbesar tekanan terhadap struktur tanah di bawahnya.
Dengan terjadinya amblesan kembali pada 10–11 Februari 2026, pengguna jalan diimbau untuk terus memantau perkembangan kondisi terkini sebelum melakukan perjalanan menuju Guci melalui jalur tersebut. Pengurangan kecepatan dan menjaga jarak antar kendaraan menjadi langkah penting untuk menghindari risiko kecelakaan.
Hingga laporan terakhir pada Rabu siang, arus kendaraan masih terpantau dapat melintas meskipun harus bergantian di beberapa titik yang mengalami penurunan cukup dalam. Permukaan jalan yang tidak rata membuat kendaraan besar perlu ekstra hati-hati agar tidak tersangkut atau mengalami gangguan keseimbangan.
Kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan membuat risiko pergerakan tanah susulan tetap ada. Oleh karena itu, kewaspadaan pengguna jalan menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan. Amblesnya jalan Clirit–Kalibakung kali ini menjadi pengingat bahwa jalur di kawasan rawan pergerakan tanah memerlukan perhatian khusus saat musim hujan.
Peristiwa yang terjadi sejak Selasa sore hingga terpantau pada Rabu, 11 Februari 2026 ini menjadi perhatian masyarakat sekitar karena berdampak langsung pada akses utama menuju Guci. Dengan kedalaman amblesan mencapai sekitar 50 sentimeter di beberapa titik, kondisi jalan jelas membutuhkan penanganan agar tidak semakin melebar.
Sampai saat ini, situasi di lokasi masih dalam kondisi dapat dilalui kendaraan dengan kehati-hatian tinggi. Warga berharap perbaikan segera dilakukan agar aktivitas masyarakat dan akses wisata kembali normal. Sementara itu, pengguna jalan disarankan memilih jalur alternatif apabila kondisi cuaca kembali memburuk dan pergerakan tanah semakin meluas.
Peristiwa amblasnya Jalan Clirit–Kalibakung arah Guci pada 10–11 Februari 2026 menjadi bukti bahwa intensitas hujan tinggi dapat berdampak langsung pada infrastruktur jalan di kawasan perbukitan. Dengan kondisi tanah yang labil, setiap curah hujan deras berpotensi memicu retakan dan penurunan permukaan jalan seperti yang terjadi kali ini.

