Banjir Berulang, Warga Tiga Desa di Pekalongan Sampaikan Aspirasi Lewat Aksi Unjuk Rasa

Sumber Foto : TRIBUN JATENG/Indra Dwi Purnomo

Pekalongan, Harianmedia — Banjir yang kembali melanda wilayah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendorong ratusan warga dari tiga desa untuk menyampaikan aspirasi mereka melalui aksi unjuk rasa. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan sekaligus tuntutan agar penanganan banjir dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan, mengingat banjir telah berulang kali terjadi dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Aksi unjuk rasa berlangsung pada Senin, 9 Februari 2026, di kawasan Jalan Pantura, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Sekitar 500 warga dari Desa Mulyorejo, Desa Tegaldowo, dan Desa Karnagjombo terlibat dalam aksi tersebut. Mereka berkumpul sejak pagi hari untuk menyampaikan aspirasi terkait banjir yang masih merendam permukiman dengan ketinggian air yang cukup tinggi.

Banjir yang melanda ketiga desa tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Pekalongan dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir. Air meluap dan menggenangi permukiman warga, bahkan di sejumlah titik dilaporkan mencapai ketinggian setara dada orang dewasa. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu, mulai dari akses jalan yang terendam hingga rumah-rumah yang tidak dapat dihuni secara normal.

Warga menyampaikan bahwa banjir tidak hanya terjadi sekali, melainkan telah berulang dalam beberapa waktu terakhir. Setiap hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, air dengan cepat menggenangi kawasan permukiman. Situasi ini membuat warga merasa khawatir, terutama karena banjir kerap bertahan lama dan mengganggu aktivitas ekonomi serta kehidupan sehari-hari.

Dalam aksi unjuk rasa tersebut, warga membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan penanganan banjir yang lebih serius. Mereka berharap adanya langkah nyata untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini dirasakan belum tertangani secara menyeluruh. Warga menilai solusi sementara belum cukup untuk mencegah banjir kembali terjadi di kemudian hari.

Lokasi aksi yang berada di jalur Pantura sempat mempengaruhi arus lalu lintas. Kendaraan yang melintas harus melambat saat melewati lokasi unjuk rasa. Meski demikian, aksi berjalan relatif tertib dan tidak menimbulkan kericuhan. Warga menyampaikan aspirasi secara bergantian dan tetap menjaga situasi kondusif selama berlangsungnya kegiatan.

Sejumlah warga mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi telah menimbulkan kerugian materiil. Perabot rumah tangga rusak akibat terendam air, sementara sebagian warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, aktivitas kerja dan usaha warga ikut terdampak karena akses keluar masuk desa menjadi sulit.

Kondisi banjir juga berdampak pada fasilitas umum di sekitar permukiman. Beberapa ruas jalan desa terendam sehingga menyulitkan mobilitas warga. Sekolah dan tempat ibadah di wilayah terdampak turut terkena genangan air, memaksa aktivitas di lokasi tersebut terganggu untuk sementara waktu.

Warga berharap penanganan banjir tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menyentuh akar permasalahan. Normalisasi saluran air, perbaikan sistem drainase, serta pengelolaan aliran sungai dinilai menjadi hal penting agar banjir tidak terus berulang. Aspirasi tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal mereka.

Aksi unjuk rasa ini menjadi sarana bagi warga untuk menyuarakan harapan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Mereka menilai penyampaian aspirasi secara terbuka diperlukan agar permasalahan banjir mendapat perhatian yang lebih luas dan ditangani secara menyeluruh.

Hingga aksi berakhir, warga membubarkan diri secara tertib. Tidak ada laporan insiden selama kegiatan berlangsung. Warga berharap aspirasi yang telah disampaikan dapat menjadi perhatian dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah konkret guna mengurangi risiko banjir di wilayah mereka.

Banjir di Kabupaten Pekalongan sendiri merupakan persoalan yang kerap terjadi, terutama saat musim hujan. Wilayah pesisir dan dataran rendah menjadi kawasan yang paling rentan terdampak genangan air. Kondisi tersebut menuntut adanya upaya penanganan yang berkelanjutan agar dampak banjir dapat diminimalkan.

Dengan adanya aksi penyampaian aspirasi ini, warga berharap kondisi lingkungan mereka dapat segera membaik. Mereka menginginkan solusi jangka panjang agar banjir tidak lagi menjadi ancaman rutin yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Aspirasi yang disampaikan mencerminkan keinginan warga untuk hidup di lingkungan yang lebih aman dan layak.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *