Bangunan Bersejarah Tangsi Belanda di Siak Ambruk, Sejumlah Pelajar Terluka

Sumber Foto : Detik.com

Riau, Harianmedia — Sabtu pagi, 31 Januari 2026, suasana wisata edukasi di salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Siak, Provinsi Riau berubah menjadi peristiwa yang memilukan. Lantai dua bangunan Tangsi Belanda yang berlokasi di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, tiba-tiba ambruk saat puluhan pelajar sekolah dasar tengah berada di dalamnya. Akibat kejadian tersebut, sejumlah siswa dan satu guru mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.45 WIB saat rombongan 55 siswa dan 12 guru dari SDIT Baitul Ridho tiba di lokasi untuk mengikuti kegiatan wisata edukasi. Rombongan sedang berada di lantai dua bangunan cagar budaya tersebut ketika lantai yang terbuat dari papan kayu tua mendadak tidak mampu menahan beban dan runtuh, menyebabkan pengunjung terjatuh ke lantai dasar.

Bangunan Tangsi Belanda sendiri merupakan salah satu struktur bersejarah yang telah berdiri lebih dari dua abad. Meskipun bangunan ini pernah mengalami revitalisasi pada periode 2018–2019, bagian lantai dua bangunan masih didominasi oleh material kayu tua yang sangat rentan terhadap kerusakan. Hal ini diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lantai bangunan tidak kuat menahan beban ketika rombongan berada di atasnya.

Kejadian tersebut membuat suasana berubah menjadi panik. Para siswa dan guru yang berada di lantai dua bangunan langsung mengalami kepanikan dan terjatuh dari ketinggian sekitar empat meter ketika lantai ambruk. Beberapa video singkat yang beredar di media sosial menunjukkan suasana saat kejadian, di mana terdengar suara panik dan teriakan dari para siswa yang terjatuh ke lantai dasar.

Sebanyak 17 orang dilaporkan mengalami luka-luka, terdiri dari 15 siswa, satu guru, dan seorang pemandu wisata. Sebagian besar korban langsung mendapatkan pertolongan pertama di tempat kejadian oleh tim medis yang berada di lokasi, sedangkan beberapa lainnya segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk perawatan lebih lanjut.

Korban yang mengalami luka parah dirujuk ke RSUD Tengku Rafian Siak, sementara korban lainnya yang mengalami luka ringan menjalani perawatan di Puskesmas Mempura. Kondisi korban beragam, mulai dari luka lecet, benturan ringan, hingga cedera yang membutuhkan jahitan dan observasi lanjutan. Hingga sore hari, sebagian besar korban dilaporkan dalam kondisi stabil di bawah pengawasan tenaga medis.

Polres Siak dan instansi terkait langsung bergerak cepat setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut. Petugas kepolisian memasang garis polisi di lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta melakukan pendataan terhadap korban dan saksi-saksi yang berada di lokasi saat insiden terjadi. Selain itu, pihak kepolisian juga bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut terhadap dampak kejadian ini.

Setelah kejadian, Bupati Siak, Afni Zulkifli, bersama Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar hadir langsung meninjau lokasi kejadian dan mendampingi korban di fasilitas kesehatan. Bupati tampak memberikan dukungan kepada para korban yang masih dirawat sembari menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang menimpa rombongan pelajar tersebut.

Dalam keterangannya, Bupati Siak juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan menutup sementara seluruh bangunan cagar budaya dan museum yang memiliki lantai dua di wilayah Kabupaten Siak sebagai langkah antisipatif guna menghindari kejadian serupa di kemudian hari. Penutupan sementara dilakukan sambil menunggu evaluasi dan pemeriksaan teknis terhadap kondisi bangunan-bangunan yang memiliki risiko tinggi.

Selain itu, pihak pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk menanggung biaya perawatan medis korban yang dirawat di fasilitas kesehatan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah setempat terhadap kejadian yang menimpa pelajar dan pendamping yang sedang melakukan kegiatan edukasi.

Kondisi lantai Tangsi Belanda yang ambruk juga kembali menjadi sorotan dan memicu diskusi mengenai pentingnya perawatan terhadap bangunan bersejarah yang masih difungsikan sebagai objek wisata dan tempat edukasi. Struktur bangunan yang sudah sangat tua dan material yang mulai rapuh menjadi perhatian utama dalam evaluasi teknis yang akan dilakukan oleh instansi terkait.

Menurut sejumlah ahli bangunan bersejarah, perawatan dan pemeriksaan struktur bangunan secara berkala sangat penting dilakukan untuk memastikan keamanan pengunjung dan mencegah kejadian yang berpotensi membahayakan. Mereka menekankan bahwa selain revitalisasi estetika, pemeliharaan struktur yang lebih mendalam juga perlu menjadi prioritas, terutama pada bangunan tua yang masih digunakan untuk kegiatan publik.

Sejak insiden ini mencuat, perhatian publik terhadap kondisi fasilitas wisata cagar budaya di Kabupaten Siak meningkat tajam. Beberapa pihak mengusulkan agar pemeriksaan struktur bangunan di seluruh objek wisata sejarah di Riau dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah risiko keselamatan pengunjung.

Hingga hari ini, 1 Februari 2026, proses evaluasi lanjutan terhadap struktur bangunan Tangsi Belanda tengah dilakukan oleh instansi teknis bersama pemerintah daerah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan penyebab pasti ambruknya lantai dua serta merumuskan langkah perbaikan dan mitigasi untuk bangunan sejarah lainnya di Kabupaten Siak.

Kejadian ambruknya lantai dua Tangsi Belanda di Siak ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan bangunan bersejarah yang masih dikunjungi publik serta perlunya pemeliharaan yang lebih intensif untuk mencegah risiko serupa di masa depan. Dengan tindakan cepat dari pihak berwenang dan perhatian pemerintah daerah terhadap keselamatan publik, diharapkan kegiatan wisata edukasi di tempat-tempat bersejarah tetap dapat berlangsung dengan aman dan nyaman bagi semua pengunjung.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *