Aceh, Harianmedia — Sebuah momen kemanusiaan terjadi pada Minggu pagi, 4 Januari 2026, ketika sejumlah Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menemukan seorang warga tergeletak lemah di atas lapisan lumpur di halaman belakang Kantor Kesbangpol Kabupaten Aceh Tamiang. Peristiwa ini terjadi dalam konteks penugasan praja-praja IPDN yang dikirim oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk membantu pemulihan wilayah pascabencana banjir dan longsor di daerah tersebut.
Penugasan ribuan praja IPDN ke Aceh Tamiang dimulai sejak 3 Januari 2026, ketika Kementerian Dalam Negeri melepas keberangkatan para praja dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menuju Aceh Tamiang. Tujuan utama pemberangkatan adalah mempercepat proses pemulihan pemerintahan daerah yang terdampak parah oleh banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir Desember 2025 hingga awal 2026.
Dalam penugasan ini, total 1.138 praja IPDN dibagi dalam beberapa kloter dan dijadwalkan bertugas di Aceh Tamiang selama satu bulan penuh, mulai dari 3 Januari hingga 3 Februari 2026. Tugas mereka antara lain membersihkan kantor pemerintahan, membantu mengaktifkan kembali layanan publik, serta mendukung pemulihan fungsi pemerintahan di tengah tantangan pascabanjir dan longsor.
Penemuan Warga dalam Kondisi Lemah
Pada Minggu pagi, ketika praja IPDN mulai melakukan persiapan di lokasi kerja untuk kegiatan pembersihan sisa banjir, mereka menemukan seorang pria yang tergeletak di lumpur dan dalam kondisi lemah serta tidak berdaya di area sekitar Kantor Kesbangpol Aceh Tamiang. Kejadian itu kemudian terekam dalam sebuah video yang kemudian menjadi perhatian publik setelah diunggah oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, di akun Instagram resmi miliknya.
Menurut laporan lokal, pria yang ditemukan tersebut merupakan warga Kampung Dalam, yang sebelumnya telah dilaporkan oleh pihak keluarga sebagai hilang selama tiga hari sebelum ditemukan. Namun, informasi tentang alasan hilangnya orang tersebut juga menyebut bahwa ia sempat beraktivitas di sekitar lokasi kejadian. Ketika ditemukan, kondisi pria tersebut terlihat lemah dan membutuhkan pertolongan cepat.
Melihat kondisi darurat tersebut, praja IPDN yang menemukan pria itu langsung bergerak cepat memberikan pertolongan awal. Mereka berkoordinasi dengan tim medis setempat dan melakukan proses evakuasi tanpa menunda waktu untuk mendapatkan perawatan profesional.
Evakuasi dan Perawatan Medis
Setelah proses pertolongan awal, pria tersebut kemudian dipindahkan ke ambulans dan dibawa menuju RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang guna mendapatkan perawatan medis yang diperlukan. Pihak rumah sakit kemudian memastikan bahwa kondisi korban terus membaik dan telah menunjukkan stabilitas setelah menjalani sejumlah pemeriksaan dan perawatan lanjutan.
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan melalui unggahan tersebut, keluarga korban juga memberi keterangan bahwa pria yang bersangkutan diduga sempat mengalami kelelahan akibat kondisi kesehatan tertentu sebelum akhirnya ditemukan oleh para praja IPDN pada Minggu pagi. “Alhamdulillah ditemukan oleh praja sekitar pukul 09.00 WIB, dan saat ini sudah kembali ke rumah dalam kondisi baik,” bunyi informasi yang disampaikan melalui unggahan di media sosial tadi
Rangkaian kejadian ini disampaikan oleh pihak rumah sakit dan pihak keluarga sebagai bukti bahwa penanganan terhadap korban telah dilakukan secara cepat dan profesional. Kondisi korban yang mengalami perbaikan dan stabilitas yang terus meningkat memberikan gambaran tentang efektivitas respons medis pascakejadian tersebut.
Kontribusi Praja IPDN di Aceh Tamiang
Penemuan dan pertolongan terhadap warga yang tergeletak di lumpur itu menjadi salah satu sorotan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh praja IPDN di Aceh Tamiang. Meski tugas utama para praja IPDN adalah membantu pembersihan kantor pemerintahan yang terdampak banjir dan membantu mempercepat pemulihan layanan publik, momen aksi kemanusiaan ini menunjukkan adanya respon cepat terhadap kondisi darurat di lapangan.
Menurut informasi yang tercatat dalam penugasan praja IPDN, mereka ditugaskan untuk membantu pemulihan pemerintahan di daerah terdampak, termasuk memulihkan fungsi layanan publik serta membantu membersihkan dan menata kembali fasilitas pemerintahan dari sisa banjir dan lumpur yang mengendap selama bencana. Hal ini bertujuan agar pelayanan kepada masyarakat dapat kembali normal dan lebih cepat berjalan.
Selain itu, praja IPDN juga diminta untuk menerapkan ilmu pemerintahan yang mereka pelajari selama masa pendidikan sebagai bagian dari pembelajaran praktis langsung di lapangan, sehingga pengalaman menangani persoalan nyata di masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter mereka sebagai calon pemimpin masa depan.
Konteks Banjir dan Dampaknya pada Aceh Tamiang
Penugasan praja IPDN ke Aceh Tamiang merupakan bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah tersebut beberapa hari sebelumnya. Banjir yang melanda Aceh, termasuk Aceh Tamiang, menyebabkan lumpur memenuhi berbagai area, termasuk kantor pemerintahan, rumah warga, dan jalan-jalan utama, sehingga aktivitas pemerintahan dan pelayanan publik mengalami gangguan signifikan.
Pemerintah daerah bersama dengan Kementerian Dalam Negeri mengerahkan sumber daya manusia dan logistik untuk membantu percepatan proses pembersihan serta pemulihan infrastruktur yang terdampak. Langkah ini dianggap penting untuk mengembalikan fungsi pemerintahan di tengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat pascapercobaan bencana.
Selain membantu di kantor pemerintahan, praja IPDN juga terlibat dalam membersihkan lingkungan dan fasilitas lain yang terdampak banjir, termasuk membersihkan sisa lumpur di berbagai lokasi strategis. Hal ini dilakukan agar layanan publik serta aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan baik dan lancar.
Kehadiran praja IPDN di Aceh Tamiang mendapat respons positif dari masyarakat setempat, yang menyambut upaya percepatan pemulihan pascabanjir. Aksi kemanusiaan seperti penemuan dan pertolongan terhadap warga yang tergeletak di lumpur menjadi momentum penting yang mencerminkan sinergi antara pemerintah pusat dan masyarakat dalam menghadapi tantangan pascabanjir.
Pihak pemerintah daerah juga menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi praja IPDN dalam proses pemulihan, karena partisipasi mereka membantu mempercepat normalisasi aktivitas pemerintahan dan pelayanan publik yang sebelumnya terhambat akibat dampak banjir.
Peristiwa penemuan dan evakuasi warga yang tergeletak di lumpur oleh para praja IPDN di Aceh Tamiang pada 4 Januari 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan bantuan penanganan pascabencana banjir. Aksi ini menunjukkan respons cepat dari petugas lapangan dalam memberi pertolongan kepada warga yang membutuhkan.
Praja IPDN sendiri ditugaskan oleh pemerintah untuk membantu mempercepat pemulihan pemerintahan dan layanan publik di wilayah yang terdampak parah tersebut. Hingga saat ini, upaya pemulihan kegiatan pemerintahan, pelayanan publik, dan pembersihan fasilitas pascabencana masih terus berjalan di Aceh Tamiang.

