Aceh, Harianmedia — Beberapa hari setelah banjir dan longsor besar melanda wilayah Aceh Utara, muncul klaim mengejutkan: sebuah truk logistik bantuan untuk korban bencana dilaporkan dibakar oleh sekelompok warga di Kecamatan Langkahan. Peristiwa tersebut — jika benar — menjadi gambaran dramatis dari ketegangan distribusi bantuan di tengah situasi darurat.
Dugaan pembakaran: kronologi dari laporan lokal
Menurut laporan di media daring lokal, sebuah truk dengan nomor polisi “BL 8013 KI” yang mengangkut logistik bantuan korban banjir di Aceh Utara diklaim dibakar oleh massa pada malam 9 Desember 2025.
Truk tersebut disebut sedang dalam perjalanan menuju kawasan terdampak banjir di Langkahan. Ketika mobil tersebut dilaporkan mogok di jalan berlumpur. Klaim dalam laporan menyebutkan bahwa warga di sekitar lokasi, yang merasa belum menerima bantuan, kemudian bereaksi keras.
Menurut siaran dari pihak berwenang lokal yang dikutip media. Kepala satuan pengelola pengamanan setempat membenarkan bahwa truk tersebut terbakar.
Situasi distribusi logistik di Aceh
Fakta terbaru menunjukkan bahwa distribusi bantuan di Aceh berjalan lewat jalur darat dan udara — sejumlah pengiriman logistik sudah masuk ke berbagai wilayah terdampak.
Pada 6 Desember 2025, misalnya, 12 truk bantuan dari program “Cares” milik Kementerian Pertanian (Kementan) tiba di wilayah terdampak untuk korban banjir.
Sementara itu, instansi penanggulangan bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa logistik bantu-an untuk korban banjir dan longsor di Aceh sudah dikelola dengan terorganisir, menepis tuduhan adanya penimbunan stok di gudang.
Namun demikian, laporan dari lembaga pemerintah juga menunjukkan bahwa di beberapa daerah, bantuan masih belum sepenuhnya merata. Di Aceh Utara, misalnya, tercatat bahwa stok logistik sangat minim — hanya beras 7,8 ton dari Cadangan Pangan Pemerintah telah disalurkan ke pengungsi, sedangkan komoditas lainnya (minyak goreng, mi instan, air mineral, perlengkapan dasar) disebut masih kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan 259.021 jiwa korban banjir.
Akses jalan yang terputus akibat banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur juga memperberat proses distribusi membuat sebagian wilayah sulit dijangkau.
Penting untuk dicatat bahwa klaim pembakaran, sejauh ini hanya berasal dari satu laporan media lokal.
Saya tidak menemukan konfirmasi dari media nasional besar, aparat penegak hukum, atau lembaga independen yang memverifikasi secara terbuka insiden tersebut, misalnya dokumentasi penyelidikan, pernyataan polisi, saksi independen, atau foto/rekaman publik yang bisa diverifikasi publik.
Sementara upaya distribusi bantuan secara luas tetap berjalan dan dikonfirmasi oleh pemerintah melalui pengiriman truk logistik dan penyaluran resmi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan kuat: apakah klaim pembakaran itu benar terjadi, atau hanya rumor/insiden kecil yang dibesar-besarkan dalam situasi emosional warga?
Jika klaim itu benar bahwa truk bantuan dibakar, maka peristiwa ini menjadi alarm keras tentang bagaimana distribusi bantuan yang tidak merata dapat memicu kemarahan warga. Rasa lapar, frustasi, dan ketidakpastian akan kebutuhan dasar dapat memicu tindakan ekstrem, termasuk kekerasan terhadap aset bantuan.
Data lapangan menunjukkan bahwa distribusi logistik untuk korban bencana di Aceh tetap berjalan lewat banyak jalur: darat, udara, dan bantuan dari berbagai instansi pemerintah serta pemerintah daerah.
Adanya klaim bahwa satu truk bantuan dibakar massa memang dilaporkan oleh media lokal.

