Sumber Foto: Kompas.com

Aceh, Harianmedia — Aceh kembali diguncang banjir susulan setelah curah hujan tinggi melanda wilayah itu dalam beberapa hari terakhir. Fenomena cuaca ini menyebabkan sungai meluap dan genangan air kembali merendam permukiman warga di sejumlah daerah, meskipun wilayah yang sama baru beberapa waktu lalu pulih dari dampak banjir besar sebelumnya. Kondisi ini menambah tantangan yang dihadapi masyarakat dalam masa pemulihan pascabanjir besar yang terjadi akhir November dan awal Desember 2025.

Data situasi terbaru menunjukkan bahwa intensitas hujan yang tinggi meningkatkan debit air sungai dan aliran drainase yang tidak mampu menampung curah hujan yang terus meningkat di wilayah tersebut. Akibatnya, air kembali memasuki pemukiman warga di beberapa kabupaten/kota di Aceh. Kejadian banjir susulan ini terjadi di tengah upaya warga dan pemerintah daerah untuk memulihkan kondisi pascabanjir besar sebelumnya, yang telah melumpuhkan banyak kelurahan dan desa di provinsi itu.

Banjir susulan bukan fenomena yang umum terjadi tanpa alasan. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari secara konsisten memberikan tekanan berlebih pada saluran air, sungai, dan drainase, sehingga ketika kapasitas penampungan air terlewati, maka air akan meluap dan menyebar ke kawasan yang lebih rendah. Hal ini tercatat terjadi di sejumlah desa dan kecamatan di Aceh yang kini kembali merasakan dampak genangan air di lingkungan mereka.

Salah satu daerah yang melaporkan banjir susulan adalah Aceh Timur, di mana hujan deras yang turun sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi kembali menyebabkan aliran sungai tidak mampu menahan debit air. Akibatnya, permukiman warga kembali terendam dan beberapa keluarga memilih mengungsi kembali ke tempat yang lebih tinggi guna menjaga keselamatan. Peristiwa ini terjadi di tengah kekhawatiran warga bahwa banjir susulan bisa datang sewaktu-waktu saat hujan intensitas tinggi masih berlanjut

Tidak hanya Aceh Timur, kabupaten lainnya juga merasakan dampak serupa ketika beberapa sungai di wilayah mereka meluap akibat curah hujan yang tidak terkendali. Di Pidie Jaya misalnya, banjir kembali terjadi setelah hujan lebat, di mana beberapa desa tergenang oleh air akibat luapan sungai di daerah tersebut. Banjir di Pidie Jaya merendam pemukiman dan akses jalan di beberapa kecamatan, memaksa warga untuk mencari tempat yang lebih aman sambil menunggu surutnya air.

Pemerintah daerah bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus melakukan pemantauan kondisi cuaca, ketinggian air sungai, dan potensi banjir susulan di sejumlah titik rawan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut serta memberikan peringatan dini kepada masyarakat agar tetap waspada dan tidak berada di dekat sungai atau daerah rendah saat hujan melanda. Petugas juga telah memetakan titik-titik yang berpotensi tergenang air dan menyiapkan rambu peringatan agar warga dapat mengambil tindakan cepat ketika hujan sedang intens.

Fenomena banjir susulan ini menambah beban masyarakat yang sebelumnya telah mengalami kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada aktivitas ekonomi akibat banjir besar sebelumnya. Banyak rumah yang sempat kering kini kembali terendam oleh genangan air yang membawa lumpur dan endapan sedimen. Sekolah, fasilitas kesehatan, dan sarana umum lainnya yang sempat pulih pun kembali menghadapi tantangan baru untuk beraktivitas secara normal.

Selain itu, genangan air yang kembali muncul juga menghambat beberapa akses jalan di daerah yang terkena dampak. Jalan antar desa yang sebelumnya telah diperbaiki untuk menghubungkan kembali komunitas yang terisolasi kini harus ditutup sementara karena kondisi genangan dan arus air yang membahayakan pengguna jalan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi warga yang harus menempuh rute alternatif untuk beraktivitas, termasuk untuk akses pendidikan dan layanan kesehatan.

Warga setempat menyampaikan kekhawatiran bahwa banjir susulan bisa terjadi lagi jika hujan deras terus melanda wilayah Aceh dalam beberapa hari ke depan. Beberapa kepala keluarga bahkan memilih untuk tetap siaga dengan menyiapkan barang-barang penting, makanan darurat, dan peralatan sandang sementara di tempat yang lebih tinggi. Warga berharap curah hujan akan surut sehingga banjir susulan dapat dihindari dan proses pemulihan lingkungan dapat terus berjalan.

Statistik resmi dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menunjukkan bahwa meskipun banjir besar telah menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi, ribuan lainnya masih tinggal di badan rumah yang rusak atau di lokasi yang rawan banjir. Data terakhir memperlihatkan bahwa puluhan desa di Aceh masih berpotensi mengalami genangan air jika curah hujan tinggi berlanjut. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan kondisi cuaca.

Kondisi cuaca yang tidak menentu ini juga berdampak pada produktivitas pertanian, terutama tanaman yang sedang tumbuh. Lahan pertanian yang sempat dipersiapkan untuk tanam padi atau palawija kini tergenang air kembali, menunda waktu tanam dan berpotensi merugikan para petani yang bergantung pada hasil panen. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir susulan tidak hanya bersifat temporal tetapi juga dapat berdampak jangka panjang bagi perekonomian masyarakat desa.

BMKG terus memberikan peringatan dini terkait potensi hujan lebat dan risiko banjir susulan di Aceh. Masyarakat di seluruh kabupaten di Aceh diminta untuk memantau informasi cuaca terbaru dan mengikuti arahan dari BPBD setempat terkait tindakan yang harus diambil jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Peringatan dini ini bertujuan untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan lebih lanjut akibat banjir susulan.

Dalam konteks tanggap darurat, pemerintah daerah juga telah menyiapkan posko-posko darurat untuk membantu warga yang membutuhkan evakuasi sementara serta memfasilitasi bantuan logistik seperti makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan. Posko ini dibentuk di beberapa titik strategis guna mempercepat distribusi bantuan jika terjadi banjir susulan. Kehadiran posko ini diharapkan dapat mempercepat respon terhadap kondisi darurat di lapangan agar dampak buruk dari banjir susulan dapat diminimalkan.

Sementara itu, berbagai organisasi sosial dan relawan lokal juga terus bergerak membantu pembersihan sampah serta endapan lumpur di area yang tergenang. Kepala desa setempat melaporkan bahwa pembersihan ini penting agar rumah dan fasilitas umum dapat segera kembali berfungsi normal setelah banjir susulan surut. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong guna mempercepat proses pemulihan di komunitas yang terdampak.

Meski begitu, warga di desa-desa yang terdampak banjir susulan berharap agar upaya mitigasi dan perbaikan infrastruktur, seperti normalisasi sungai dan penguatan sistem drainase, dapat dilakukan lebih cepat. Mereka menyampaikan harapan agar langkah-langkah ini bukan hanya dilakukan sementara, tetapi direncanakan secara jangka panjang untuk menghadapi musim hujan berikutnya sehingga ancaman banjir susulan dapat dikurangi secara signifikan.

Banjir susulan di Aceh menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca ekstrem yang dipicu oleh curah hujan tinggi dapat menyebabkan dampak serius jika tidak diantisipasi secara tepat. Komunitas dan pemerintah daerah terus bekerja sama guna memastikan keselamatan warga dan mempercepat proses pemulihan. Dengan koordinasi yang kuat dan kesiapsiagaan terus menerus, diharapkan Aceh dapat bangkit dari tantangan banjir susulan dan memperkuat ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi di masa depan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *