Harianmedia.com — Hingga Kamis, 4 Desember 2025, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera — Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — terus menunjukkan dampak serius bagi warga dan lingkungan. Data resmi terbaru dari lembaga penanggulangan bencana nasional memperlihatkan skala kerusakan dan korban yang sangat besar.
Data Terbaru dari BNPB
Berdasarkan rilis resmi dari Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatin) BNPB per 4 Desember 2025 pukul 09.46 WIB — jumlah korban yang sudah diverifikasi sebagai berikut :
- Korban meninggal dunia: 776 orang
- Korban hilang / belum ditemukan: 564 orang
- Korban luka-luka: sekitar 2.600 orang
Warga terdampak (termasuk korban kehilangan tempat tinggal, pengungsian, dan kerusakan rumah/fasilitas): jutaan jiwa di 50+ kabupaten/kota terdampak di ketiga provinsi.
Data ini mencerminkan kondisi darurat dan memperlihatkan bahwa bencana yang terjadi bukan hanya soal korban jiwa, tapi juga kerugian sosial dan kemanusiaan yang luas.
Kronologi Singkat Kejadian
Bencana ini dimulai sejak akhir November 2025, ketika hujan lebat selama beberapa hari berturut-turut mengguyur wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — memicu banjir bandang dan longsor di sejumlah kabupaten. BNPB pertama kali merilis data korban saat itu, dan angka terus diperbarui seiring berjalannya proses evakuasi, pencarian korban hilang, dan verifikasi lapangan.
Seiring perkembangan laporan, korban tewas meningkat dari awalnya beberapa ratus, lalu menjadi 659 jiwa per 2 Desember, kemudian 753 jiwa per 3 Desember, dan akhirnya 776 jiwa per 4 Desember 2025.
Dampak bagi Warga & Infrastruktur
Bukan hanya korban manusia — bencana ini menyebabkan kerusakan masif pada rumah warga, fasilitas publik, jalan dan jembatan, serta berbagai sarana vital. Banyak warga kehilangan rumah, barang, dan akses ke layanan dasar. BNPB mencatat bahwa warga mengungsi dalam jumlah besar, dan distribusi bantuan serta penanganan darurat terus dilakukan.
Banyak titik terdampak berada di daerah terpencil dengan akses sulit — hal ini memperlambat proses evakuasi dan bantuan. Selain itu, cuaca dan kondisi medan memperburuk risiko longsor ulang dan banjir susulan.
Respons dan Upaya Penanganan
Sebagai respons terhadap situasi darurat, BNPB bersama instansi terkait telah mengerahkan tim SAR, tim medis, serta tim logistik untuk membagikan bantuan — seperti makanan, air bersih, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya — ke lokasi-lokasi pengungsian. Pusat data bencana juga terus memperbarui informasi secara berkala agar masyarakat mendapat informasi terbaru.
Pemerintah daerah di tiga provinsi pun menetapkan status tanggap darurat, memperketat pemantauan kondisi cuaca dan tanah, serta memperkuat upaya mitigasi risiko agar bencana susulan dapat dicegah semaksimal mungkin.
Data Dinamis & Verifikasi Berkelanjutan
Karena situasi di lapangan sangat dinamis — banyak korban hilang, daerah terisolasi, dan kondisi cuaca yang berubah cepat — data dari BNPB mungkin saja berubah sewaktu-waktu. Angka 776 meninggal dan 564 hilang hari ini adalah angka terbaru berdasarkan verifikasi yang sudah dilakukan, tetapi BNPB menegaskan bahwa proses pencarian dan validasi masih berlangsung.
Masyarakat dan media diimbau untuk selalu merujuk ke rilis resmi BNPB untuk informasi paling akurat, agar tidak terjadi perbedaan data yang menyesatkan.

