jombang, Harianmedia — Sabtu malam, 22 November 2025, sebuah lapak penampungan ban bekas di Kota Cilegon dilalap api hebat. Lokasi kebakaran tersebut berada di Lingkungan Cigiceh, Kelurahan Gedong Dalem, Kecamatan Jombang, tepat di belakang RSUD Cilegon.
Sekitar pukul 22.45 WIB, petugas dari Tagana Kota Cilegon menerima laporan kebakaran bangunan. Warga menyebutkan bahwa api muncul begitu cepat, disertai kepulan asap pekat yang terlihat melayang tinggi dari kawasan ban bekas.
Tim pemadam kebakaran langsung dikerahkan ke lokasi. Dari laporan visual di media sosial, beberapa unit mobil pemadam tiba dan mulai menyemprot area yang terbakar, mencoba menahan kobaran api yang terus menjilat tumpukan ban. Karena bahan baku (ban bekas) sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, proses pemadaman menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Sementara itu, hingga malam itu belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau korban luka-luka. Dari keterangan awal pihak Tagana dan laporan warga, tampaknya api hanya menyebabkan kerusakan pada gudang ban bekas saja. Penyebab kebakaran masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang. Beberapa laporan menunjukkan bahwa polisi sedang menelusuri dugaan asal api, namun belum ada kesimpulan final.
Hingga pagi hari tanggal 23 November 2025, petugas masih melakukan pendinginan di lokasi. Meski sebagian besar api sudah dikendalikan, titik-titik panas (hot spot) masih terlihat dan berisiko menyala ulang jika tak ditangani dengan seksama. Dalam catatan bencana lokal, kebakaran semacam ini bukanlah hal sepele: menurut data, hingga Oktober 2025, sudah tercatat 91 kasus kebakaran di Kota Cilegon dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 1,5 miliar.
Pihak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Cilegon diharapkan segera merilis laporan resmi terkait jumlah kerusakan material dan potensi dampak kesehatan akibat asap. Warga setempat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap bahaya kebakaran, terutama di area dengan tumpukan bahan mudah terbakar seperti ban bekas.
Kejadian ini kembali menyoroti tantangan besar dalam penanganan kebakaran jenis “barang bekas” di kota bukan hanya dalam hal pemadaman, tetapi juga mitigasi risiko dan pencegahan. Dengan fakta bahwa ban bekas mudah menyala dan sulit dipadamkan, kapabilitas pemadam kebakaran diuji dalam kondisi yang lebih berat daripada kebakaran bangunan biasa.
Di sisi lain, masyarakat diharapkan aktif melapor setiap potensi bahaya sejak dini. Karena menurut pengalaman dari kebakaran sebelumnya, respon cepat bisa menjadi penentu seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkan. Untuk hari ini, pasca kebakaran, kondisi telah cukup stabil, tetapi pemantauan dan pembersihan puing masih akan menjadi prioritas agar tidak menimbulkan risiko lanjutan.

